Tampilkan postingan dengan label mie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2013

Atjeh Sabang Selera Pedas

Sudah sampai di Banda Aceh tentunya sayang jika melewatkan makanan khas bumi Serambi Mekah ini. Seperti pada umumnya masakan khas Sumatra, Aceh juga identik dengan olahan pedasnya. Namun, jika lidah Anda tak suka dengan lombok seperti saya, bersiaplah air mineral di samping Anda karena masakan yang ada hampir semuanya pedas.
 
Mie Kepiting
Masakan yang harus dicoba tentu saja Mie Aceh. Olahan mie ini memang sudah tak asing lagi di telinga. Maklum, mereka orang Aceh yang merantau jauh dari tanah kelahirannya berperan penting menyebarkan virus makanan Aceh ke tanah Jawa. Bahkan, warung di belakang kampus saya di Solo pun menyuguhkan Mie Aceh sebagai sajian utamanya. Menginjakkan kaki di kota yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka ini memang harus siap berpedas ria. Saya termasuk orang yang tak bersahabat dengan makanan pedas pun harus pasrah saat ketiga kawan seperjalanan serta dua teman Aceh saya memilih tentu saja Mie Aceh menjadi santapan di malam perdana kami di Serambi Mekah.
Ketiga kawan saya sepakat membidik Mie Kepiting sebagai menu utama. Sedang saya memilih aman dengan mencoba Mie Cumi-cumi. Saya kira menu kepiting yang akan tersaji di meja sudah berupa daging ataupun dalam porsi kecil seperti yang ada di Solo. Ternyata dugaan saya salah besar. Mie Kepiting itu adalah perpaduan antara Mie Aceh dan seekor kepiting besar. Porsinya tak manusiawi karena seharusnya ini diperuntukkan tiga hingga empat orang. Seorang kawan saya sudah menyerah hanya dengan menghabiskan ¼ porsi, satu lagi setengah porsi dan saya berikan standing applause untuk kawan saya satu lagi yang sukses menandaskan kepitingnya. Harga untuk seporsi Mie Aceh plus kepiting besar ini hanya Rp30.000/porsi.