Rabu, 21 Mei 2014

Balada Juventus (1): Pippo dan Nedved

Perayaan hat-trick scudetto Juventus di Kota Turin. Italia/Juventus.com

Saya tidak tahu bagaimana awalnya saya jatuh cinta dengan bola. Sebab, tak ada darah penggila bola apalagi pemain bola dalam keluarga besar saya. Bapak yang seorang guru tak suka olahraga ini dan lebih senang mendengarkan langgam Jawa dan teman-temannya, sementara ibu juga lebih suka membaca buku berbahasa Jawa dan sejenisnya.
Seingat saya olahraga yang identik dengan kaum Adam ini saya kenal sejak duduk di bangku SD. Namun, bola resmi menjadi bagian dari hidup saya setelah naik ke level SMP. Adalah teman-teman lelaki saya yang setiap awal pekan selalu asik mengobrol tentang olahraga yang membutuhkan 11 orang demi memperebutkan satu bola di lapangan hijau berumput ini.
Lantaran ingin ikutan nimbrung, maka sedikit demi sedikit mulai melihat siaran bola berdurasi 2 x 45 menit di salah satu televisi swasta yang saat itu moncer dengan menyiarkan berbagai pertandingan Seri A Italia. Saat itu tahun 1990-an Liga Premier Inggris belum semoncer seperti sekarang. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab mengapa saya jatuh hati pada tim Italia.
Ketika kawan-kawan saya sibuk mengunggulkan AC Milan, Lazio dan Roma, saya justru kesengsem dengan Juventus. Tak dapat dipungkiri rasa suka ini bermula dari sosok ganteng sang striker, Filippo Inzaghi, yang saat itu masih berseragam La Vecchia Signora. Bahkan, demi mendapatkan foto serta stiker pemain bernomor punggung 9 itu saya mesti menabung dengan keras untuk membelinya. Sayangnya, foto serta stiker itu berakhir di tempat sampah karena ibu saya menyobeknya setelah mendapati gambar-gambar itu menempel di dinding kamar saya, pasrah.
Kegilaan itu ternyata melebar, tak hanya mengenal sosok Pippo, tapi menjalar hingga ke tim-tim tetangga. Maka saya mulai berkenalan dengan Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Andriy Shevchencko, Oliver Bierhoff, Gabriel Batistuta Christian Vieri, Hernan Crespo, Francesco Totti, Vicenzo Montella, dkk. 

Minggu, 13 April 2014

Batik Indonesia, Karya Monumental Hardjonagoro

Para pembatik di rumah Go Tik Swan/rid
Membatik itu ternyata pekerjaan yang sulitnya bukan main. Saya tak bisa membayangkan betapa tekunnya para ibu yang masih setia membuat batik tulis di kediaman Go Tik Swan ini. Mereka dengan telaten membikin hasil karya warisan sang mpu batik, Batik Indonesia, yang jika dijual harganya bisa jutaan rupiah ini. Sehari berkeliling dan mengamati praktik membatik tradisional para ibu ini membuat saya malu. Betapa tinggi ketekunan, keuletan serta kesabaran mereka miliki demi menghasilkan sebuah seni yang tak ternilai harganya ini.
Adalah Batik Indonesia yang lahir dari tangan sang maestro batik, Go Tik Swan, dengan cara yang tak biasa. KRAry Hardjosoewarno (pewaris Go Tik Swan) pun bercerita tentang lahirnya mahakarya sang mpu batik ini. Saat itu Hardjonagoro sudah menjadi orang dekat Bung Karno. Selepas makan malam, Bung Karno mendadak memintanya untuk membuat batik. Namun, batik yang diinginkan sang Proklamator bukanlah batik Solo atau Yogyakarta maupun Pekalongan dan Cirebon, melainkan Batik Indonesia.
“Pak Go terkejut dengan apa yang diucapkan Bung Karno. Karena dia adalah orang yang bekerja untuk Soekarno, maka ia menganggap itu sebagai perintah yang harus dilaksanakan. Ia merasa bingung campur ragu, tetapi karena ini sudah perintah, maka mesti ia lakukan,” ucap lelaki asal Mandan, Sukoharjo, yang setia mendampingi almarhum Go Tik Swan hingga tutup usia.
Tak kalah hebatnya dengan para peneliti, demi mewujudkan perintah orang nomor satu se-Indonesia ini, Go Tik Swan juga melakukan survei. Namun, metode yang diterapkannya berbeda karena ia menjalaninya sebagaimana orang Jawa, yakni dengan laku (nglakoni). Selain survei ke sentra batik, ia juga berziarah ke makam-makam orang suci di berbagai tempat. Ia akhirnya mendapatkan ilham tentang ide batik Indonesia itu ketika berada di Bali. Ia seakan mendapat “wahyu” lalu menuangkannya ke dalam gambar-gambar desain setibanya di Solo.
Setelah jadi, karya itu ia perlihatkan ke hadapan Bung Karno. Sang Presiden mengamininya dan memperkenalkannya kepada masyarakat sebagai Batik Indonesia. Batik ini adalah perpaduan antara batik gaya klasik kraton (Solo, Yogyakarta) dan gaya pesisir utara Jawa Tengah (Pekalongan). Maka yang terjadi adalah perkawinan teknik sogan dengan pewarnaan multiwarna khas pesisir.

Karyati, pembatik yang sudah 30 tahun mengabdi kepada Go Tik Swan/rid
 “Jadi Batik Indonesia itu merupakan perpaduan motif lama disentuh dengan yang baru. Setiap polanya ada filosofinya. Kalau ditotal motif yang beliau ciptakan sangat banyak, lebih dari 100 buah,” cerita Supiyah, perempuan yang dulu bekerja dengan Go Tik Swan yang kini menjadi pewarisnya bersama sang suami, Hardjosoewarno.
Supiyah meneruskan, setiap motif yang diciptakan Go Tik Swan memiliki makna simbolik. Antara lain, batik Parang Bima Kurda, Sawunggaling, Kukila Peksa Wani, Radite Puspita, Pisan Bali dan lain-lain. Selain itu, ia menerapkan konsep nunggak semi, yakni sebuah konsep pengembangan kebudayaan yang didasarkan pada pokok (tonggak) kebudayaan lama, mengenal yang lama untuk menciptakan yang baru.
Dari sekian karyanya itu, Sawunggaling yang menjadi master of piece nya. Sawunggaling sebenarnya merupakan nama tokoh heroik dalam cerita rakyat Jawa Timur yang berjuang membela rakyat jelata memerangi penjajah Belanda. Namun, Sawunggaling versi Go Tik Swan terinsipirasi dari sebuah arena pertarungan sabung ayam di Bali. Ia terilhami dari pakaian Bali yang dikenakan kawannya yang berlatar Sawunggaling warna emas. Ia mengubahnya dalam warna campuran soga dan merah darah berlatar hitam. Kali terakhir Hardjonagoro membuat motif batik Parang Baris Suryo Guritno yang dipersembahkan untuk Pakubuwana XII.
Motif-motif ini masih diproduksi hingga sekarang. Para pewaris Go Tik Swan tak pernah mengubah motifnya, tetapi hanya melakukan pengolahan warna atau mengubah latarnya saja. Tak perlu membuka butik atau showroom khusus untuk memasarkan batik yang superekslusif ini karena mereka sudah memiliki langganan tetap. Mulai dari para menteri, anggota dewan hingga mantan Presiden RI sekaligus putri sang proklamator, Megawati Soekarno Putri.
Batik motif Sawunggaling/rid
Jika tak memiliki uang dengan nominal hingga level jutaan, jangan coba-coba memesannya. Sebab, harga kain batik buatan rumah batik Go Tik Swan ini mencapai Rp7,5 juta. Selain itu, waktu pengerjaannya sangat lama, jika motifnya biasa maka dibutuhkan waktu 4-5 bulan, tapi kalau yang dipesan sekelas Sawunggaling, bersiaplah menanti hingga 6 bulan demi mendapatkan karya monumental ini. Namun, harga yang paling fantastis itu khusus untuk batik Tumurun Sri Narendra yang pernah dibuat Go Tik Swan untuk Pakubuwana XII saat jumenenangan yang ke-32.
“Pakai batik seharga Rp7 juta? Ini penjahitnya sudah grogi apalagi yang pakai,” celetuk seorang kawan saat kami mengetahui nilai jual batik karya sang maestro ini.
Tapi Edi, salah seorang karyawan di rumah batik ini memberi penjelasan, jika pelanggan membatalkan pesanannya tak jadi soal, karena sudah ada pelanggan lain yang siap sedia membeli batik itu. Bahkan, saat kami menyambangi rumah ini, tak ada kain batik yang benar-benar sudah jadi atau ready stock, karena semuanya sudah terjual dan yang tengah dalam proses pembuatan itu juga sudah ada pembelinya.  
Dulu Hardjonagoro memiliki karyawan yang lumayan banyak, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kini tinggal puluhan. Sebab, mencari pembatik sekarang tak mudah. Namun, masih ada beberapa pembatik yang setia mengabdi hingga puluhan tahun. Salah satunya yang saya temui adalah Karyati. Perempuan ini boleh dibilang satu-satunya pembatik penyusun pola yang masih tersisa di rumah batik Go Tik Swan.

Membuat pola/rid
Saat kami menyambanginya, perempuan yang sudah berumur ini tengah membuat pola pada sehelai kain putih yang hanya diberi garis bantu. Indra penglihatannya masih sangat jeli, begitu juga dengan tangannya yang menari lincah di atas kain putih dengan cantingnya, luar biasa. Wah, saya kalah telak! Uletnya, rajinnya, sabarnya, semuanya.
Berada di kompleks ndalem Surolayan ini sangatlah nyaman. Pendapa yang terletak di belakang rumah lengkap dengan suasana tenang tanpa bising suara kendaraan bermotor membuat kami betah berlama-lama di rumah yang memiliki nilai historis yang mengagumkan. Di samping itu, saya kagum melihat para penerus Go Tik Swan ini yang senantiasa menjaga warisan tak ternilai harganya ini hingga saat ini.
Kunjungan singkat ini memberi saya banyak pelajaran berharga. Mulai dari mengenal lebih dekat sang seniman batik, melihat karya-karyanya dilestarikan hingga sekarang serta kontribusinya terhadap kebudayaan tradisional terutama Jawa.

Pewaris Go Tik Swan, K.R.Ar. Hardjosoewarno (kanan) dan istrinya, Supiyah/rid

Menyusuri Jejak Sang Maestro Batik, Go Tik Swan

Ruang tamu Rumah Go Tik Swan/rid
Saya mendengar nama Go Tik Swan ketika membaca sebuah buku tentang batik berjudul, Batikku: Pengabdian Cinta Tak Berkata,  karya ibu negara, Ani Bambang Yudhoyono. Boleh dibilang saya terlambat mengenalnya. Apalagi sang maestro batik ini lahir, besar, tinggal dan meninggal di Kota Solo. Saya dan beberapa kawan pun dilanda penasaran tentang siapa tokoh pencetus Batik Indonesia ini.
Saya jadi teringat ketika mengunjungi museum batik Danarhadi beberapa waktu lalu. Saya melihat pajangan Batik Indonesia sebagai salah satu koleksi berharganya. Tak disangka batik yang lahir lewat permintaan langsung sang Proklamator sekaligus Presiden Republik Indonesia yang pertama, Soekarno, ini adalah orang Solo keturunan China, Go Tik Swan atau K.R.T. Hardjonagoro.
Alangkah beruntungnya bisa menyambangi rumah milik seniman batik sejati ini lewat seorang teman yang kebetulan mengenal baik keluarga penerus Go Tik Swan. Saya dan beberapa kawan berkesempatan mengunjungi rumah yang dikenal dengan semua bernama ndalem Surolayan ini akhir Maret lalu. Konon rumah ini awalnya merupakan milik Kliwon Suroloyo, seorang ulama pejabat Suronoto (keagamaan) Keraton Surakarta pada zaman pemerintahan Pakubuwana II. Saya sendiri tak menyangka ada rumah setua ini di antara bangunan-bangunan modern di sepanjang Jalan Yos Sudarso, Surakarta.
Setelah rumah ini berpindah kepemilikan ke tangan kakek Go Tik Swan, Tjan Khay Sing, yang merupakan pengusaha batik kaya nan ternama ini melakukan beberapa perubahan pada tahun 1931. Awalnya kompleks bangunan bergaya arsitektur kota tahun 1960-an ini memanjang ke dalam yang seluruhnya terdiri bangunan utama pendapa bentuk limasan, bangunan ndalem bentuk joglo dan gandhok kiri dan kanan, di kelilingi pekarangan.
Perubahan pun dilakukan sang kakek, yakni pendapa Surolayan dibongkar dan dibangun kembali menjadi los empat persegi panjang digunakan untuk membatik dan dalam keadaan setengah terbuka. Bagian ndalem bentuk joglo dibiarkan sesuai aslinya dan ditambah bangunan dua lantai dari kayu. Lantai pertama untuk menyelesaikan pekerjaan seperti ngerok, ngemplong, mewarnai dan dapur, sedangkan di lantai dua untuk menjemur kain yang telah dicelup.
Setelah masuk ke dalamnya, barulah saya tahu betapa luasnya kompleks tempat Hardjonegarono mengabdikan dirinya untuk seni batik. Beruntung sekali kami diterima langsung oleh pewaris Go Tik Swan, Kanjeng Raden Arya (KRAr) Hardjosoewarno dan istrinya, Supiyah Anggriani.
Sayang, kami tak bisa melihat koleksi asli batik karya Go Tik Swan karena terlalu riskan untuk mengeluarkannya dari tempat penyimpanan saking sudah berumurnya aset berharga ini. Namun, kami diperkenankan untuk menjelajahi kompleks rumah ini dan melihat langsung proses pembuatan Batik Indonesia warisan sang empu batik yang masih dilestarikan hingga sekarang.
“Ruang tamu ini didesain langsung oleh Bung Karno (Presiden RI pertama, Soekarno). Kamar tamunya berada di belakang rumah utama. Di sini Hardjonagoro biasa menerima tamu-tamunya,” kata  KRAr Hardjosoewarno, mengawali ceritanya tentang sosok Go Tik Swan yang merupakan mantan majikannya.

Benar saja, ruang tamu ini berada di tempat terbuka dengan ornamen oval pada bagian atapnya. Jika duduk-duduk di sini kita tak menyangka rumah ini terletak di pinggir jalan raya yang ramai karena saking tenangnya lantaran berada di bagian belakang.

Lukisan Go Tik Swan Hardjonagoro/rid
Dalam buku Jawa Sejati: Sebuah Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro karya Prof. Dr. Rustopo S.Kar, Go Tik Swan adalah seorang keturunan Tionghoa. Ia lahir di Surakarta, 11 Mei 1931 dan merupakan anak pertama dari empat bersaudara, putra dari pasangan Go Dhiam Ik dan Tjan Ging Nio. Leluhur Go Tik Swan merupakan orang Tionghoa yang kaya nan terhormat pada zamannya. Dari keluarga sang ayah yang masih keturunan Luitenant Der Chinezen van Boyolali, sedangkan ibu berasal dari trah Majoor Der Chinezen van Surakarta.
Meski berdarah Tionghoa, keluarga Go Tik Swan, terutama sang kakek tak pernah melarang cucu kesayangannya ini untuk belajar segala hal berbau Jawa.  Go Tik Swan kecil sudah tertarik dengan dunia Jawa. Sejak awal ia suka sekali dengan tembang-tembang Jawa yang dilantunkan para pembatik yang bekerja di rumah kakeknya, Tjan Khay Sing. Selain itu, menonton wayang menjadi kegemaran yang tak pernah dilewatkannya. Kesukaannya dengan budaya Jawa ini membuatnya dekat dengan GPH Prabuwinata, putra Pakubuwana XI, yang di kemudian hari menjadi guru tarinya.
Ia pun mahir sebagai penari putra alus, misalnya menari tokoh-tokoh Arjuna, Abimanyu, Gambir Anom, Kresna, Samba, Panji Asmarabangun dan sejenisnya. Keahliannya inilah yang membuatnya dekat dengan Bung Karno.
“Suatu ketika Go Tik Swan yang menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia berkesempatan menari di Istana Negara Jakarta. Dari sinilah Bung Karno tertarik dengan sosoknya. Mungkin karena kualitas tari yang disajikannya memang bagus dan mungkin beliau tahu penarinya adalah seorang keturunan Tionghoa,” imbuh Hardjosoewarno.
Namun, kemonceran Go Tik Swan menari Jawa ini justru mendatangkan konflik dengan orangtuanya. Sebab, kepergiaan sang putra ke Ibu Kota itu diperkenankan untuk belajar ekonomi di UI demi meneruskan usaha keluarga. Bukannya masuk Fakultas Ekonomi, ia justru menyasarkan diri ke Sastra Jawa. Orangtuanya menyodorkan pilihan sulit. Pertama, ia dimaafkan asal kembali kuliah lagi di ekonomi, kedua, dipersilakan menari dengan konsekuensi tak lagi dibiayai orangtua.
Go Tik Swan membulatkan tekadnya untuk memilih dunia yang sangat disukainya, yakni budaya Jawa. Demi membiaya kehidupannya di Jakarta ia rela berdagang aksesoris busana Jawa yang didesain dan dibuat sendiri. Ia membeli bahan dasarnya di Solo dan digarap di Ibu Kota.
Buah dari pilihan beraninya inilah Go Tik Swan bertransformasi menjadi orang Jawa, yang bahkan lebih njawani dari orang Jawa sendiri. Kecintaannya pada budaya Jawa ini tak hanya mengantarkannya pada seni batik, tetapi juga hal yang berbau kesenian lainnya. Seperti mengabdi untuk museum Radya Pustaka dan tokoh tosan aji.

Pendapa Pugeran/rid
Radya Pustaka zaman dulu sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan sekarang. Dulu museum yang didirikan 28 Oktober 1890 ini menjadi lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang menyediakan sumber-sumber atau bahan untuk pembelajaran dan penelitian. Kini tinggallah museum yang justru banyak kehilangan benda-benda berharganya, entah dicuri atau sengaja dijual demi keuntungan pribadi, ironis.
Di bawah kepemimpinannya pada 1970-an, Radya Pustaka mengalami berbagai persoalan pelik. Meskipun demikian, ia sempat membuat beberapa perubahan signifikan mulai dari bekerja sama dengan Cornell University dalam pembuatan micro film buku-buku kuno hingga merenovasi bangunan museum. Setelah ia merasa tak dapat aktif lagi, lalu menyerahkannya kepada Suhadi, pegawai museum yang mulanya sangat loyal sejak kepemimpinan Hadiwijaya. Sayang, kepercayaan itu disalahgunakan seiring dengan hilangnya lima patung berharga yang belakang diketahui aksi kriminal ini dilakukan sendiri oleh Suhadi dan pegawainya.
Kegemarannya dengan dunia tosan aji membuatnya membangun besalen keris di kediamannya pada tahun 1988. Hardjonagoro membikinnya sebagai upaya melestarikan proses pembuatan keris mengikuti ajaran para mpu keris terdahulu, yakni menjaga nilai-nilai tradisi dan kebatinannya.
Kesetiaan seorang Go Tik Swan kepada Kraton Kasunanan Surakarta membuatnya diganjar bergelar. Mulai dari diangkat menjadi Bupati Anom dengan gelar Raden Tumenggung Hardjonagoro  hingga Kangjeng Pangeran Aryo (KPA) pada tahun 2001. Ia pun meninggal dunia di usianya  yang ke-77 tahun 2008 lalu. Meskipun sudah tutup usia, karya-karyanya tak lekang di makan usia.
Saya dan beberapa kawan pun berkesempatan mengabadikan sosok Go Tik Swan lewat sebuah lukisan yang dipajang di kamar tamu. Seniman batik Indonesia ini terlihat sangat berwibawa dan berkarisma dalam balutan busana Jawa.

Senin, 24 Maret 2014

Belajar Perbankan Lewat Museum

Koridor di Museum Bank Mandiri/rid
Saya tak pernah suka dengan dunia Perbankan. Namun, ketidaksukaan ini bukan berarti membuat saya tak mau belajar. Maka saat ada kesempatan menyambangi dua museum bank ternama di ibu kota, akhir Maret ini saya pergunakan dengan baik untuk mengenal bidang yang sarat akan angka ini.
Adalah Museum Bank Mandiri dan Bank Indonesia yang menjadi tempat saya mengenal praktik perbankan. Letak kedua museum bersejarah ini sangat berdekatan, yakni di kompleks Kota Tua Jakarta. Jika Museum Bank Mandiri ada di Jalan Lapangan Stasiun No 1 Jakarta Barat, Museum Bank Indonesia beralamat di Jl. Pintu Besar Utara No 3, Jakarta Barat. Akan tetapi, dua museum ini kondisinya sangat kontras.

Museum Bank Mandiri/rid
Bangunan pertama yang saya kunjungi adalah Museum Bank Mandiri. Dari luar bangunan ini tampak berdiri sangat kokoh. Namun, terlihat sedikit kotor, mungkin karena dinding bangunan peninggalan Belanda ini tak sering dibersihkan. Pemandangan ini semakin cocok dengan banyaknya angkot yang mangkal di depan museum. Belum lagi ditambah para pedagang makanan dan minuman. Maklum, kawasan ini sangat ramai karena tepat di depan museum terdapat Stasiun Kota. Praktis aktivitas masyarakat yang hilir mudik di luar stasiun cukup padat.
Masuk ke lingkup museum kita seperti di bawa kembali ke zaman dulu. Bangunan dengan jendela dan pintu besar lengkap dengan pilar-pilarnya yang gagah siap menyambut kedatangan kita. Soal urusan tiket, sepertinya free charge, sebab saat saya berkunjung berbekal status mahasiswa lalu menulis di buku tamu, maka penjaga loket langsung mempersilakan saya berkeliling, hahaha.

Mesin tanda lunas tempo dulu/rid
Museum ini dibuka pada 2 Oktober 1998 dan menempati gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan yang kini menjadi aset Bank Mandiri.
Koleksinya jelas berbagai benda yang berhubungan dengan aktivitas perbankan tempo dulu. Mulai dari perlengkapan operasional bank, seperti peti uang, mesin hitung uang mekanik, kalkulator, mesin pembukuan, mesin cetak, alat pres bendel, seal press, safe deposit box. Lalu ada surat berharga seperti bilyet deposito, sertikat deposito, cek, obligasi dan saham serta mata uang kuno dan sebagainya.

Praktik Perbankan/rid
Tapi sepertinya museum ini kurang terawat karena koleksi berharga ini dibiarkan begitu saja. Alhasil, membuat kesan benda-benda bersejarah ini seperti tak lebih dari benda usang yang tak berarti. Apalagi jika menyusuri lorong-lorong ke tempat penyimpanan uang atau pelayanan nasabah VIP. Rasanya seperti sedang ikut acara televisi yang berbau mistik, hahaha. Belum lagi naik ke lantai dua, yang ada malah seperti melihat film horor.

Mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) tempo dulu/rid
“Seumur-umur hidup di Jakarta, aku enggak pernah jalan ke museum,” celetuk seorang kawan yang menemani saya.
Kami pun mendapat hiburan dengan adanya dua robot-robotan yang terletak di salah sartu ruangan. Acara keliling ini semakin menarik karena kami menemukan sebuah piano, biola dan cello yang diletakkan di sela-sela ruang yang riuh dengan perbankan dan segala aktivitasnya. Spot yang menarik untuk bernarsis diri, hahaha.

Lobby Museum Bank Mandiri/rid
Selesai dengan Museum Bank Mandiri, belajar perbankan lalu berlanjut ke Museum Bank Indonesia. Hanya sedikit berjalan kaki beberapa meter, maka sampailah di museum yang menempati bangunan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neo-klasikal rasa lokal dan dibangun pertama kali pada tahun 1828 ini.
Baru sampai gerbang saja, saya dan kawan sudah tercengang saking besar dan bagusnya museum milik Bank Indonesia ini. Alangkah berbedanya dengan museum tetangga yang terkesan kusam, museum satu ini sangat terawat. Selain itu, masuknya pun free alias gratis.
Museum ini menyuguhkan informasi mengenai lahirnya Bank Indonesia serta perannya sebagai bank sentral yang bertugas mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Museum ini menjadi catatan perjalanan Bank Indonesia yang terbentuk pada tahun 1953 disertai dengan kebijakan-kebijakannya bagi masyarakat.

Museum Bank Indonesia/rid
Penyajiannya pun dikemas dengan sangat atraktif memanfaatkan teknologi modern dan multi media seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma dan diorama.
Demi menguatkan cerita ini, museum ini dilengkapi dengan koleksi benda-benda bersejarah terutama koleksi mata uang. Mulai dari koleksi uang logam dan uang kertas dari zaman Belanda dulu hingga awal adanya Indonesia sampai sekarang. Semua mata uang yang dipamerkan asli!

Mata Uang/rid
Agar puas, Anda mesti memperhatikan baik-baik setiap lorongnya. Sebab, museum ini seperti memberitahu kita perjalanan bangsa ini dari perriode ke periode lewat bidang perbankan, tentunya. Bahkan, jika Anda ingin tahu tentang berbagai kebijakan Bank Indonesia, selaku bank sentral, di sinilah tempatnya. Begitu halnya jika ingin mengetahui tentang krisis moneter yang menerpa Indonesia di akhir tahun 1990-an. Komplet!

Logo Bank Indonesia/rid
Keluar dari ruangan display, saya serasa berada di Eropa. Bagaimana tidak, inner court yang berada di lantai satu museum ini membuat kita seperti terlempar di masa kolonial. Kita seakan berada di ruang terbuka yang dikelilingi bangunan berarsitektur khas Belanda, berpintu dan berjendela besar lengkap dengan dindingnya yang menjulang tinggi.
Meski saya tak juga paham mengenai perbankan, setidaknya saya tahu bagaimana sejarah dan seluk-beluknya. Tak akan sia-sia jika meluangkan waktu berkunjung ke museum bersejarah ini. Daripada sekadar berjalan-jalan ke mall satu mall lain di Jakarta, mungkin tempat-tempat ini bisa menjadi alternatif untuk dikunjungi…hehehe…

Timeline Moneter/rid

Selasa, 21 Januari 2014

Mencicipi Menu Premium Ala Dapur ACS

Mempersiapkan peralatan makanan di Aerowisata Catering Service (ACS)/rid

Selepas menilik bengkel superbesar milik Garuda Indonesia di Garuda Maintenance Faclity (GMF) Aero Asia, kunjungan berikutnya ke Aerowisata Catering Service (ACS) yang letaknya berada di kompleks Bandara Internasional Soekarno Hatta, Kamis (8/1/2014). ACS ini tempat dibuatnya makanan dan beverage untuk maskapai penerbangan domestik serta maskapai asing.
Di tempat ini kita bisa melihat bagaimana mempersiapkan menu mulai dari pemilihan bahan, memasak, hingga penyajiannya untuk di dalam pesawat. Setiap harinya, ACS ini mempersiapkan 49.000 porsi makanan. Untuk urusan domestik, ACS hanya melayani Garuda Indonesia, sedang ada setidaknya 17 maskapai asing yang menggunakan jasa katering milik Garuda Grup ini.
Ketika saya dan kawan-kawan sampai di ACS, tepat sekali saat waktunya makan siang. Jadi, sebelum menjelajahi dapur ACS, rombongan pun disuguhi makanan dan minuman kelasnya penerbangan premium Indonesia. Rasanya, tidak perlu dipertanyakan lagi, tetapi menunya jelas cita rasa Indonesia. 

Rabu, 15 Januari 2014

Melihat Lebih Dekat Burung Besi di GMF

Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737 NG di hangar GMF/rid
Melihat pesawat terbang mondar-mandir di bandara itu biasa. Atau duduk manis di kursi pesawat yang akan mengantarkan kita sesuai tujuan perjalanan juga boleh jadi sudah umum. Namun, melihat lebih dekat seperti apa burung besi yang kerap kali terbang tinggi membelah awan langit ini menjadi kesempatan yang langka.
Saya berkesempatan mengenal lebih dekat maskapai penerbangan terbesar di Indonesia ini pada Kamis, 9 Januari 2013 lalu. Tur sehari ini akan mengantarkan saya dan kawan-kawan menilik tiga anak perusahaan Garuda Indonesia Grup, yakni Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia, Aero Catering Service (ACS) dan Garuda Indonesia Training Center (GITC). GMF serta ACS ini letaknya masih berada di kompleks Bandara International Soekarno Hatta. Sedangkan GITC terpisah di daerah Kosambi, Tangerang, Banten.
Tempat pertama yang menjadi persinggahan adalah GMF Aero Asia. Jika masuk ke bengkel motor dan mobil juga sudah umum dilakukan. Apalagi ketika motor atau mobil kita baik butuh perawatan secara berkala atau perbaikan. Akan tetapi, masuk ke bengkel pesawat terbang seperti apa ya. Saya tak bisa membayangkan seperti apa besarnya bengkel ini.
Maka ketika menjejakkan kaki di kompleks GMF Aero Asia, saya berdecak kagum saking luasnya. Tak heran juga tempat ini merupakan bengkel pesawat terbesar se-Asia Tenggara karena luasnya mencapai . Masuk ke bengkel burung besi ini tidak bisa sembarangan. Selain harus jelas maksud dan tujuan datang ke sini, sebelum lebih jauh berkeliling di dalamnya, maka perlu dilakukan pemeriksaan seperti halnya saat kita check-in di bandara.
Servis yang disediakan pun beragam, mulai dari engineering service, line maintenance, base maintenance, engine maintenance hingga component maintenance. Semuanya jelas untuk perbaikan si burung besi.

Selasa, 17 Desember 2013

Menilik Meja Judi Kaliber Asia Tenggara

Cable car di Genting Highlands/rid

Jika berwisata ke area gunung seperti di Kabupaten Karanganyar maupun Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tentu tak jauh-jauh dari wisata alam. Jalan yang berkelok-kelok diwarnai pemandangan alam berupa tebing serta bukit-bukit di kanan kiri jalan menjadi pemandangan yang umumnya bakal kita saksikan sepanjang jalan menuju tempat yang akan dituju. Selain itu, udara sejuk hingga kelewat dingin menjadi ciri khas daerah pegunungan.
Maka yang lazimnya dituju adalah sejumlah air terjun, kebun teh ataupun kompleks candi seperti ada yang di Bumi Intanpari, julukan Karanganyar, dengan Gunung Lawu sebagai target utama. Atau jika berkunjung ke Kota Susu Boyolali, hamparan permadani hijau berupa berhektar-hektar ladang tembakau dan sayur-mayurlah yang bakal kita temui sejalan menuju Kecamatan Selo yang terletak di lereng Gunung Merapi, salah satu gunung teraktif di Indonesia.
Akan tetapi, pemandangan itu tak akan dijumpai di sebuah tempat bernama Genting Highlands. Azam, seorang kawan lama mengajak saya menyambangi daerah pegunungan yang terletak di antara Pahang dan Selangor, Malaysia, September lalu. Genting Highlands merupakan sebuah kawasan pengembangan pariwisata yang terdiri dari hotel, kasino dan taman bermain yang terletak di puncak Gunung Ulu Kali yang memiliki ketinggian 1.800 meter dari permukaan laut (dpl). 

Rabu, 20 November 2013

Menilik Jogan, Dipan Raksasa Pesisir Selatan

Pantai Jogan, Tepus, Wonosari, Gunung Kidul/rid.
Edisi dolan kali ini kembali berbau pantai. Sekadar ingin melepas penat dari padatnya aktivitas sehari-hari, saya dan seorang kawan nekat menyambangi pantai selatan di Gunung Kidul, Yogyakarta Mei lalu. Padahal deretan pantai itu sudah cukup sering saya tengok. Namun, rasa penasaran untuk menjelajahi pantai-pantai lainnya yang belum begitu dikenal orang membuat pantai selatan akan selalu menarik hati.
Jarak tempuh dari Solo ke Gunung Kidul tidak bisa dianggap dekat. Sekiranya butuh tiga jam untuk bisa memijakkan kaki di tanah berpasir putih dengan deburan ombak biru yang luar biasa indahnya. Pilihan perjalanan singkat sehari ini jatuh ke tiga pantai, Siung, Jogan dan Nglambor yang terletak di Kecamatan Tepus, Wonosari, Gunung Kidul.
Jika menyebut Pantai Siung, saya kira sudah banyak yang mengetahuinya. Pantai ini terkenal dengan tebing-tebingnya yang eksotis yang biasa digunakan oleh para atlet panjat tebing. Selain itu, banyak warung makan yang berada di tepi pantai menjajakan ikan laut hasil tangkapan nelayan setempat. Lengkap sudah jika berwisata ke pantai ini bersama keluarga. Selain itu, Siung mudah dijangkau dengan kendaraan besar sehingga memungkinkan mobil hingga bus nangkring ke sini.

Si Baby Champ, Marquez dan Angka 20

Juara Dunia MotoGP 2013, Marc Marquez (MotoGP.com)
Saya mengagumi pembalap belia, Marc Marquez ini sejak ia masih berlaga di ajang Moto2. Pembalap muda asal Spanyol ini boleh jadi sangat garang saat berlaga di lintasan balap, tetapi ia berubah menjadi sosok yang super murah senyum ketika atribut helm itu tak menutupi wajahnya. Hanya butuh waktu dua musim bagi pembalap muda ini untuk bisa merengkuh mahkota Moto2 2012.
Keberhasilan itu menghantarkannya naik kasta ke MotoGP musim 2013. Di ajang balap kelas premier ini Marquez melesat bak peluru. Mungkin Marquez memang dilahirkan untuk mencetak rekor di dunia balap. Di usianya yang baru 20 tahun, Marquez yang berstatus sebagai debutan berhasil menjadi pembalap termuda juara dunia sepanjang sejarah MotoGP. Di angka 20 ini sejarah pembalap muda kelahiran Cervera, Spanyol ini baru dimulai.
Pembalap kelahiran 17 Februari 1993 ini mengambil alih rekor “King” Kenny Roberts yang juga berstatus rookie juara pada musim 1978. Kemenangan ini juga menguatkan posisi Honda sebagai tim pabrikan paling tangguh musim ini. Honda berhasil mengambil kembali mahkota MotoGP yang diraihnya terakhir kali pada 2011 oleh Casey Stoner.

Awal Perjalanan 1.528 Kilometer Part#1



KLCC, Twin Tower, KL, Malaysia/rid
Bepergian ke luar negeri untuk kali pertama menjadi pengalaman yang luar biasa. Apalagi perjalanan singkat berdurasi empat hari ini saya lakukan sendiri. Saya memutuskan membayar kekecewaan saya lantaran gagal bertandang ke rumah sahabat saya di pesisir pantai selatan Thailand dengan mengunjungi negeri tetangga Malaysia.
Kuala Lumpur pun menjadi pilihan sekalian berkunjung ke rumah saudara. Maka Rabu-Sabtu (25-28/9) adalah waktu yang tepat untuk menengok negeri sebelah. Seharusnya saya berangkat ke Thailand Kamis (19/9), via LCCT, Kuala Lumpur – Alor Setar. Akan tetapi, rencana itu berubah total karena kondisi badan yang tidak memungkinkan. Setelah diundur sepekan, Rabu berikutnya perjalanan dimulai via Bandara Adi Sutjipto, Jogjakarta.
Sebagian penumpang pesawat dengan tujuan KL ini adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia. Saya sempat ngobrol dengan seorang ibu asal Jogja yang telah bekerja selama lima tahun di Kuala Lumpur. Kepulangannya ke Tanah Air adalah untuk menikahkan anak perempuannya. Meski sudah berusia hampir setengah abad ia masih ingin mencari rezeki di luar yang jauh dari kampung halamannya. Bahkan, ia belum berencana kapan ia akan benar-benar pulang ke rumahnya di Jogja. Mungkin suatu hari nanti saat ibu berambut sebahu ini merasa tanggung jawabnya untuk menghidupi keluarganya di kampung sudah paripurna.
Petugas imigrasi pun menilisik lebih jauh dengan mengutarakan beberapa pertanyaan seputar kepergian saya ke KL. Maklum, paspor warna hijau milik saya itu masih benar-benar bersih. Dan ini untuk kali pertama saya mendapatkan stempel imigrasi, hahaha.
Karena maskapai yang saya naiki adalah milik Malaysia segala instruksi pun berbahasa Melayu dan Inggris. Ada beberapa kata yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Sebab, jika bahasa Melayu itu disamakan dengan bahasa Indonesia artinya bisa sangat jauh.
Misalnya saja dalam bahasa Inggris sang pramugari menyebut if you need something please call our staff, tetapi jika kata-kata ini diterjemahkan dalam bahasa Melayu menjadi jika nak butuh sesuatu silakan kontak kaki tangan kami. Ungkapan kaki tangan membuat saya tertawa terbahak-bahak. Itu sekelumit perbedaan bahasa yang memang membuat kelucuan tersendiri. Akan tetapi, bagaimanapun Melayu dan Indonesia masih satu rumpun dan tentu saja bersaudara erat.