Rabu, 08 April 2015

The Story of Goryeo (6): Mencari Anak Tangga di Haneul Park

Haneul Park di kompleks World Cup Stadium, Mapo-gu, Seoul/rid
Satu-satunya alasan mengapa saya ingin sekali pergi ke Haneul Park adalah karena saya termakan drama Korea berjudul Angel Eyes yang dibintangi oleh Go Hye-sun dan Lee Sang-yoon yang tayang April hingga Juni tahun lalu. Dalam sejumlah scene, kedua artis kawakan Korea itu beradu akting di tangga berlatar pemandangan Kota Seoul dan Sungai Han.
Sejak kepincut tempat itu, saya langsung punya ide sedikit gila seandainya saya bisa ke Korea, maka saya harus menemukan tempat itu. Saat itu saya tak tahu apa nama tempat yang digunakan untuk syuting serial tersebut. Alhasil, saya mencari lewat dunia maya taman-taman yang unik di Seoul.  
Beruntung, teman dari kawan saya, Ata, teh Nia, sudah paham seluk beluk Seoul. Ketika Ata bercerita kepada teh Nia, ia langsung paham soal taman yang saya maksud. Betapa senangnya seandainya saya bisa menjejakkan kaki di tangga kayu berlatar pemandangan Kota Seoul itu.
Kesempatan untuk menjelajahi Haneul Park tak saya lewatkan ketika saya akhirnya memijakkan kaki di Negeri Ginseng ini, Oktober tahun lalu. Kunjungan ini saya lakukan dengan kawan seperjalanan saya, Ata, sebelum pergi ke YG Building. Kedua tempat ini memang berada di satu kawasan di Mapo-gu, Seoul. Hanya, jika Haneul Park terletak di kompleks World Cup Stadium di Seongsan-dong, sedangkan YG Building di Hapjeong-dong.
Bagian depan Haneul Park/rid
Sesampainya di World Cup Stadium, saya sempat dibuat bingung di mana letak Haneul Park. Maklum, saking luasnya kompleks stadion yang pernah digunakan untuk Piala Dunia 2002 ini. Satu lagi yang bikin pusing, papan petunjuk di sana hanya ada dalam bahasa dan huruf Hangul.  
Alhasil, saya mondar-mandir enggak jelas di depan stadion dan berharap mungkin ada warga sekitar yang melintas. Saat itu bukan akhir pekan jadi tak heran jika kompleks yang biasa digunakan untuk berolahraga ini cukup sepi. Pencarian itu kian bikin putus asa lantaran hujan turun tanpa permisi. Perjalanan hari itu memang salah di awal karena kami tak mengecek prakiraan cuaca. Hujan siap mengguyur Kota Seoul baru saya sadari ketika di subway hampir semua orang menenteng payung.
Satu pelajaran lagi saya dapatkan. Prakiraan cuaca yang bisa dicek lewat aplikasi handphone atau dilihat dari televisi di Korea terbilang akurat. Jika hari itu diperkirakan hujan, maka mereka pasti membawa payung. Jas hujan jelas sulit ditemukan karena di sana orang jarang mengendarai motor tak seperti di sini.
Keberuntungan sepertinya berpihak kepada kami berdua ketika mencoba bertanya pada seorang ahjussi, sebutan untuk paman dalam bahasa Korea, yang tengah memarkir mobil di bahu jalan raya sebelah stadion. Kami sempat ragu apakah ia bisa berbahasa Inggris atau tidak. Tapi, kalau di sana tak nekat bertanya saya yakin bakal tersesat terus.
“Annyeonghaseo, ahjussi. Do you know where is it Haneul Park?” tanya kami kepada paman yang kemungkinan seorang teknisi atau tukang reparasi mengingat di dalam mobilnya terdapat berbagai peralatan.
Ia pun langsung menjawab dengan bahasa Ibunya, Korea. Saya dan Ata langsung saling berpandangan tanda tak paham. Ya, kami memang hanya sedikit mengerti bahasa Korea. Tapi, kalau diucapkan begitu cepat seperti itu mana kami paham.
“Haneul Park, Ahjussi. Do you know it?” ulang Ata.
Syukurlah, sang paman tampaknya menangkap apa yang kami maksud. Ia lalu menunjukkan arah yang mesti kami lalui untuk sampai ke sana. Kalau seperti ini jelas kami tak bisa sampai karena benar-benar tak paham apa yang ia ucapkan. Tanpa diminta si paman lalu mengambil secarik kertas dan pulpen dari dashboard mobilnya dan mulai menggambar semacam peta.
Ia kemudian menandai beberapa titik yang harus kami lewati hingga sampai di Haneul Park. We’ve got it ! Kami pun tak lupa mengucapkan terima kasih yang sangat banyak atas bantuannya dan segera menyeberang ke arah berlawanan karena ternyata letak taman itu berseberangan dengan World Cup Stadium.

Haneul Park/rid
Saya kira kami memang sudah sampai di Haneul Park ketika sudah terlihat papan nama yang cukup besar. Pada kenyataannya itu baru pintu masuk karena taman yang sesungguhnya ada di atas bukit. Kami harus berjalan kaki beberapa kilometer untuk sampai ke sana.
Apesnya, saat itu hujan turun tanpa ampun. Beruntung di pintu masuk itu disediakan semacam shuttle bus bagi pengunjung yang tak mau bercapek ria jalan kaki ke atas dengan membayar beberapa ribu won. Sebenarnya sayang kalau mesti merelakan uang saku yang cukup berharga demi menaiki kendaraan pengantar ini. Tapi, tak ada jalan lain kecuali kalau kami ingin hujan-hujanan dan itu bukan pilihan bagus.
Kami mesti berteduh lagi karena hujan kian deras. Saya dan Ata pun berkumpul berbagi tempat dengan sejumlah anak TK yang sedang menggelar acara di sebuah gazebo yang tak terlalu besar di samping taman. Saya langsung terpesona betapa indahnya taman ini. Sejauh mata memandang dimanjakan dengan warna hijau ilalang yang membentang sepanjang taman. Di sisi depan terhampar bunga-bunga berwarna ungu, merah, dan putih.
Setelah hujan mereda dan menyisakan gerimis kecil, misi mencari tangga Haneul Park dimulai. Belum juga masuk taman yang ditumbuhi ilalang panjang itu, kami bertegur sapa dengan seorang ahjussi. Dengan bahasa Korea yang begitu cepat, kami sedikit menangkap maksudnya bahwa ia ingin difoto dengan latar taman. Saya dan Ata tak sendiri. Di sekeliling kami banyak para orang tua seperti ahjussi dan ahjumma yang turut menikmati taman ini.
“Mbak, kok kebanyakan orang tua ya. Anak mudanya jarang banget. Jangan-jangan ini taman khusus orang tua,” seloroh Ata.
Kami sepertinya baru sadar karena sepanjang jalan banyak kami temui para orang tua. Tapi, itu tak jadi soal yang terpenting kami sudah sampai di sini dan sayang jika mesti balik kanan mengingat apa yang harus kami tempuh untuk sampai di taman sekeren ini.
Yang bikin saya tambah kagum sebenarnya adalah awal mula bagaimana Haneul Park ini ada. Ternyata taman ini dulunya adalah gundukan sampah. Kota semotropolitan dan sepadat Seoul jelas menyisakan sampah yang sangat banyak di tahun 1993. Pada tahun 1994 pemerintah mulai mengubah kawasan sampah itu menjadi taman. Total ada enam taman di kompleks World Cup Stadium demi mendukung penyelenggaraan Piala Dunia 2002 saat Korea menjadi tuan rumah bersama Jepang.

View dari Sungai Han dari Haneul Park/rid
Haneul dalam bahasa Korea berarti sky alias langit adalah yang paling tinggi di antara kelima taman lain. Luasnya mencapai 192.000 meter persegi. Terdapat sebuah jembatan di atas jalan raya yang terkoneksi langsung dengan stadion. Taman ini juga dilengkapi 291 anak tangga yang bisa membawa kita ke puncak taman. Dan tangga inilah yang saya cari.
Sebelum berputar lebih jauh ke dalam taman, kami pun duduk sebentar di rest area yang berada di depan taman. Di kanan kiri kami banyak nenek-nenek dan ahjumma yang saling mengobrol sambil memakan bekal mereka di gazebo.
Betapa senangnya ketika ada dua orang nenek yang menawari kami untuk bergabung makan bersama. Bukan makan besar, tapi berbagi kacang kenari dan entah teh atau kopi hangat yang mereka bawa. Saya sempat kesulitan bagaimana mengupas kacang kenari yang sangat keras ini sehingga salah satu dari mereka mempraktikkan caranya.
Kami sebenarnya hendak berlama-lama di sana, tapi mengingat luasnya taman yang mesti kami kelilingi plus misi mencari tangga keramat yang belum ketemu membuat kami menolak ajakan sang nenek untuk makan bekal utama mereka.
Tapi, kebingungan lagi-lagi melanda. Ketidaktahuan arah membikin kami berdua seolah berputar-putar di tempat yang sama. Apalagi ilalang yang tumbuh begitu tinggi membuat kami tak bisa melihat jalan yang jelas kecuali jika berada di tempat yang lebih tinggi.
Demi apa, kami mendadak berjumpa lagi dengan ahjussi yang sempat meminta kami foto di depan taman. Keinginan untuk mengobrol menguap karena ia tak bisa berbahasa Inggris, sedangkan kami tak mahir bahasa Korea. Singkat kata kami ingin melihat Sungai Han dari taman ini. Dengan bahasa tubuh dan antah berantah, ahjussi itu seperti meminta kami mengikutinya.
Ata (kiri), ahjussi (tengah), kenalan kami/rid
Kami memang belum menemukan 291 anak tangga yang diidam-idamkan, namun pemandangan yang ia tunjukkan kepada kami bikin mulut kami ternganga. Entah apa jadinya kalau ia tak ada, kami tak bakal ketemu dengan tempat keren berlatar Sungai Han plus jembatan yang berdiri gagah membelah sungai paling besar di Korea itu.
Orang Korea benar-benar ramah. Kebaikan ahjussi yang tak sempat kami ketahui namanya itu tak berhenti di situ. Sebelum beranjak pergi ia bahkan menyerahkan bekal makanan dan mimunan yang dibawanya untuk kami. Satu kantong plastik berisi beberapa snack dan minuman kemasan. Tak ada yang bisa kami lakukan selain berterima kasih sangat atas kebaikannya. Mengantar kami melihat Sungai Han hingga memberi bekal makanan.
Persahabatan tak perlu harus memahami bahasa yang sama atau bangsa yang sama, kan? Kebaikan juga tak perlu menanti untuk dilakukan dengan mengenal kita terlebih dulu, bukan? Kami mendadak teringat hari-hari pertama tiba di Korea, tersesat di beberapa stasiun subway yang bikin panik. Setiap tersesat selalu ada warga setempat yang dengan senang hati membantu menunjukkan jalan. Meskipun, mereka mungkin tak paham bahasa kami dan tak bisa berbahasa Inggris dan tak kenal kami. Jadi terharu...
Tak apalah saya belum bisa menemukan tangga ajaib itu hingga kami memutuskan meninggalkan taman ini. Untungnya, hujan reda dan kami memutuskan berjalan kaki turun dari bukit keren luar biasa ini. Saya sempat ragu memilih jalan yang berbeda dengan jalan yang kami lalui saat berangkat.

Pilihan saya seakan membawa berkah karena saya akhirnya bersua dengan 291 anak tangga Haneul Park. Sayang, kami tak bisa melewatinya karena dalam masa perbaikan. Apa pun itu saya sangat bersyukur karena angan-angan aneh saya terwujud sudah. Berdiri di antara anak tangga lalu berfoto bernarsis ria berlatar Sungai Han. What a wonderful day ever ! 
291 anak tangga di Haneul Park/rid

Senin, 09 Maret 2015

The Story of Goryeo (5): Berjumpa Bintang Pujaan Hati

Banner member Big Bang (Daesung, Seungri, Taeyang) di K-Live Store/rid
Sudah jauh-jauh sampai ke Korea tak apalah jika aku mesti mengikuti kegilaan temanku, Nopita Maulittian, yang akrab disapa Ata, yang begitu menyukai boyband di bawah naungan YG Entertainment, Big Bang. Akhirnya sampailah kami di rumah para artis K-Pop YG Family di kawasan  Mapo-gu, Hapjeong-dong, Seoul, Oktober tahun lalu.
YG Building ini punya bangunan yang unik dan mencolok. Temanku, Ata, yang fans berat leader Big Bang, G-Dragon, ini  tak henti-hentinya tertawa dan tersenyum karena mimpinya untuk datang ke YG kesampaian juga.
Perjalanan ke YG ini bisa dibilang agak dramatis. Selain karena beberapa kali tersesat, hujan deras yang turun bikin jalan-jalan ini makin berkesan. Salah kami juga karena tak melihat prakiraan cuaca hari itu yang bikin kami enggak bawa payung sebelum berangkat dari penginapan di dekat Sungkyunkwan University, di Jongno-gu.
Untungnya, di depan YG ada minimarket buat tempat berteduh sekalian mengisi perut dengan jajan kimbab dan susu. Ternyata kami tak sendiri nongkrong di sini. Ada fans dari Hong Kong dan Tiongkok yang juga berharap bisa bertemu Idol YG Family hari itu. Fans asal Tiongkok itu malah tampil totalitas pakai baju dengan meniru gaya member 2NE1, Sandara Park, dengan aksesoris pelengkap berupa topi hitam, yang sempat dipakainya dalam video klip Missing You.
“Aku baru datang ke Seoul kemarin. Tadi agak nyasar juga akhirnya bisa nyampai sini. Siapa tahu bisa ketemu Big Bang,” ujar fans G-Dragon asal Hong Kong yang baru saja aku kenal.
Salah satu papan iklan Lee Min Ho di stasiun subway/rid
Kegilaan memburu Idol tak berhenti di YG. Lagi-lagi demi ketemu salah satu member Big Bang, TOP, yang menggelar acara fans meeting di Hyundai Departement Store rela kami lakoni. Apalagi letak mal ini begitu jauh di kawasan Apgujeong-dong yang membikin kami harus berhenti di sejumlah stasiun untuk berganti line subway.
Enggak seperti di Indonesia yang hobi naik motor atau mobil pribadi, orang Korea lebih mengandalkan transportasi umum seperti subway atau bus. Tapi, ini sebanding kok dengan tingkat kenyamanan dan keamanan di dalam kendaraan umum itu. Hanya, kita mesti bawa peta jalur subway kemana pun agar tak nyasar. Jika masih bingung, jangan sungkan bertanya kepada mereka. Orang Korea itu ramah lo, bahkan mereka enggak sungkan mengantarkan ke tempat yang kita maksud. 
Semakin dekat ke tempat fans meeting udah terdengar teriakan histeris para VIP, sebutan fans Big Bang. Para penggemar yang rata-rata anak perempuan remaja ini tak henti-hentinya mengelu-elukan nama TOP, rapper Big Bang. Aku cuma bisa melongo melihat sekitarku. Maklum, baru kali ini aku ikut acara jumpa fans yang ternyata begitu heboh.
Daripada ikut berdesak-desakan enggak jelas, aku pilih mengambil jarak agak jauh dari kerumunan, tapi tetap terlihat dari panggung kecil tempat TOP duduk. Melirik temanku Ata, jangan ditanya. Dia udah antusias ingin foto bareng idolanya itu. Malah ia mau beli tiket demi bisa dapat poster dan tanda tangan sang Idol, sayang, sudah sold out. 
Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah naik turun eskalator demi menjepret penyanyi yang juga membintangi beberapa judul film itu. Kalau dipikir-pikir ini bukan kali pertama bagi dia lihat langsung TOP.  Ia pernah nonton konser Big Bang saat datang di Jakarta, 2012, lalu rela terbang ke Singapura demi konser YG Family tahun lalu.

Fans meeting di Doota Mall/rid
Selama di Seoul kami juga cukup beruntung bisa melihat aktor Joo Woon yang menjadi pemeran utama dalam serial drama Bridal Mask, Good Doctor, dan Tomorrow Cantabile. Saat itu ia bersama aktor muda, Ahn Jae Hyun, yang dikenal lewat perannya dalam serial You are All Surrounded bersama Lee Seung Gi dan My Love From Another Star dengan Kim Soo Hyun dan Jun Ji Hyun. Keduanya sedang mempromosikan film terbaru mereka, Fashion King, di Doota Mall di Dongdaemun.

Salah satu aktor drama Korea, Joo Woon/rid
“Ini namanya rezeki anak saleh, eonni. Ya ampun enggak nyangka ya kita bisa ketemu mereka,” tutur temanku yang tingkahnya jadi kian aneh sejak berjumpa dengan idolanya.

Begitu pula ketika aku dan Ata berkunjung ke rumah kenalan kami yang orang Korea, Karen di Busan. Saat itu baru berlangsung acara Busan International Film Festival (BIFF) di Pantai Haeundae. Di tempat ini kami beruntung bisa melihat salah satu aktor besar Korea, Jung Woo Sung, yang bermain dalam satu drama action, Athena. Ketika itu aktor 41 tersebut tengah mempromosikan film terbarunya, Scarlet Innocence. 

Aktor pendatang baru, Ahn Jae Hyun/rid

Minggu, 08 Maret 2015

The Story of Goryeo (4): Mengejar Idol di Negeri Ginseng

Ucapan selamat ulang tahun dari fans untuk Lee Jong Suk di salah satu stasiun subway/rid

Jika kamu ngaku penggemar berat K-Pop rasanya enggak afdol kalau belum berkunjung langsung ke Korea Selatan. Namun, rencana berlibur ke Negeri Ginseng ini mungkin terdengar mustahil. Apalagi kalau enggak soal bujet yang mesti kita siapkan demi terbang ke negara impian ini. Sebenarnya segala kendala itu bisa loh dilewati. Asal ada kemauan, pasti ada jalan. Berikut sejumlah tips dan trik agar mimpimu untuk jumpa artis Korea terwujud.

1. Pastikan Waktu Kunjungan
Sebelum pergi ke Korea alangkah baiknya kamu tentukan dulu kapan waktu yang tepat untuk berangkat. Maklum, Korsel enggak seperti Indonesia yang ada di daerah tropis yang hanya punya dua musim, penghujan dan kemarau. Letak Korea di kawasan sub-tropis membuatnya memiliki empat musim, yakni musim semi, panas, gugur, dan dingin.
Enggak mau kan sudah jauh-jauh ke sana tapi kita salah kostum. Mungkin di koper kita cuma bawa stok baju biasa, tapi sampai di sana ternyata lagi musim dingin. Enggak asik dong. Yang ada kita bakal tiduran di balik selimut tanpa bisa menikmati indahnya Korea cuma karena gak bawa baju tebal.
Negeri asal boyband Super Junior dan girlband, Girl Generation ini punya empat musim. Pertama musim semi itu biasanya berlangsung dari akhir Maret hingga Mei. Kalau kami ingin melihat indahnya cherry blossom atau mekarnya bunga yang beraneka warna, ini saat yang tepat untuk berkunjung.
Kedua, musim panas yang terjadi pada Juni hingga awal September. Selain panas, kondisi udara cukup lembab. Tapi, sepanas-panasnya di Korea tetap masih panas di Indonesia. Sebab suhu udara di sana paling enggak sampai 25 derajat celcius saja.  
Ketiga, musim gugur pada September hingga November. Ini adalah musim terbaik untuk berkunjung ke negeri sejuta pesona ini. Selain cuaca yang sangat bersahabat, kita akan disuguhi warna-warni daun pada pohon yang menjadi landscape Kota Seoul.
Keempat adalah musim dingin yang berlangsung Desember hingga pertengahan Maret. Kalau kamu ingin bermain salju, inilah saat yang tepat. Tapi, kamu enggak boleh lupa bawa baju supertebal beserta perlengkapannya, seperti sarung tangan, penuntup kepala, dan telinga. Apalagi suhu udara di sana ketika bisa sampai minus loh.

Landscape Kota Seoul/rid

2. Berburu Tiket Murah
Mencari tiket ke Korea ini yang orang bilang mahal minta ampun. Memang benar kalau kamu perginya naik maskapai penerbangan macam Garuda Indonesia. Tapi, ini bisa disiasati loh dengan berburu tiket murah jauh-jauh hari. Biasanya dalam setahun maskapi low cost carier seperti Air Asia sering mengobral tiket murah. Hanya, kamu mesti rajin-rajin memantaunya minimal enam bulan sebelum berangkat.
Kalau beruntung, kamu bisa dapat tiket pulang pergi dari Jakarta-Seoul hanya Rp2-3jutaan. Harga ini terbilang murah karena tiket reguler bisa sampai Rp5-6 juta sekali terbang. Perjalanan paling pas dilakukan saat malam hari karena lama waktu yang ditempuh dari lebih dari tujuh jam. Itu plus transit sekali di Kuala Lumpur, Malaysia. Misalnya, berangkat petang dari Jakarta lalu sampai di KL sekitar 2,5 jam dan baru bertolak ke Korea ketika tengah malam. Maka kita akan berjumpa pagi di Korea. Jangan lupa, waktu di Korea itu lebih cepat dua jam dari Waktu Indonesia Bagian Barat.  

Album CD K-Pop di Myeongdong Underground Shopping Mall/rid

3. Cari Penginapan
Kita enggak perlu pusing untuk mencari penginapan yang pas buat bujet bepergian kita di Korea. Meski harga won enggak bisa dibilang murah, tapi banyak hostel atau guest house yang tersebar di penjuru Kota Seoul. Enaknya, kita bisa booking secara online dari Tanah Air via Agoda, booking.com atau langsung ke situs resmi guest house-nya.
Kalau kamu ingin tinggal di tempat ramai bergaya gaul anak muda Korea, kamu bisa mencari penginapan di Hongdae. Saat sore hingga malam hari kawasan ini begitu ramai. Ada semacam pasar malam yang menjual berbagai model baju hingga aksesoris khas anak muda Korea. Begitu pula kalau kamu suka dengan hiburan malam semacam bar atau pub, Hongdae cocok untuk hobi satu ini.
Tapi, kalau kamu suka dengan hal yang berbau sejarah, bisa memilih Insadong atau Jongno. Di area ini kamu bisa sekalian berkunjung ke istana peninggalan Dinasti Joseon seperti Changdeokgung dan Gyeongbokgung. Itaewon juga menarik untuk ditinggali karena di area ini kental dengan nuansa Timur Tengah. Selain itu, bagi umat Muslim yang kesulitan mencari makanan halal, inilah tempat yang tepat untuk mengenyangkan perut tanpa takut akan kehalalannya.
Tinggal di rumah tradisional Korea, Hanok, bakal menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Kapan lagi bisa merasakan tidur di rumah yang sebelumnya cuma bisa kita lihat di drama Korea lewat layar televisi kita. Penginapan di Buckhon Hanok Village bisa jadi pilihan. Tapi, untuk menginap di tempat seperti ini, kantong kita harus lebih tebal ya karena harganya nyaris sama dengan hotel berbintang.

Merchandise di K-Live Store/rid

 4. Pengajuan Visa
Mengurus hal yang satu ini bikin badan kita adem panas. Apalagi visa ini yang akan menentukan boleh tidaknya kita berkunjung ke negeri asal rapper Psy yang fenomenal ini. Bayangkan jika kita sudah booking tiket dan penginapan, namun enggak dapat visa.
Kalau mau praktis, kamu bisa dapat visa ini lewat travel agent. Selain menjual tiket, biasanya mereka juga menawarkan jasa pengurusan visa. Cara ini jelas gampang, tinggal kamu lengkapi semua syarat yang dibutuhkan untuk pengajuan  visa. Cuma, mereka biasanya minta dana limit di rekening tabungan kita minimal Rp50 juta sebagai jaminan kalau kita enggak bakal hidup kekurangan di sana.
Uang sebanyak itu yang mesti kita siapkan bisa bikin kita batal ke Korea karena enggak mungkin kita punya. Sebenarnya kalau mau ribet sedikit, kita bisa urus langsung ke Kedubes Republik Korea di Jakarta tanpa jaminan uang di rekening sampai Rp50 juta lho. Hari pertama kamu masukkan segala syarat pengajuan visa lalu tinggal menunggu sekitar lima hingga 10 hari berikutnya untuk mengonfirmasi hasilnya. Jika ada persyaratan yang kurang, pihak Kedubes bakal telepon kamu untuk melengkapinya.  

G-Dragon glass car/rid

5. Bertemu Idola di Acara Musik K-Pop
Setelah mendarat di Korea dengan melewati berbagai rintangan, saatnya kembali ke tujuan awal, yakni ketemu bintang K-Pop. Bukan hal yang mustahil buat jumpa penyanyi idola kita loh. Salah satunya dengan ikut acara K-Pop Music Show. Pertunjukan musik seperti Inbox dan Dahsyat ini begitu menjamur di Seoul. Acara semacam ini jadi sarana fans untuk bertemu dengan Idol atau sebaliknya.
Sejumlah acara musik yang paling terkenal antara lain SBS Live KPOP Countdown (Ingigayo), KBS Music Bank atau M.net M! Count Down.  Acara ini sering jadi ajang bagi para Idol untuk promo album atau lagu baru serta untuk mengukur seberapa sukses karya mereka diterima fans. Asiknya, music show ini tidak seperti konser, tiket penonton dibagikan gratis bagi mereka yang mendaftar online dan akan diundi.

Buckhon Hanok Village/rid

6. Belanja Merchandise K-Pop
Belanja pernak-pernik K-Pop di Seoul adalah hal yang sayang banget untuk dilewatkan. Kalau ingin merchandise resmi, kamu bisa membelinya di Klive Store tepatnya di Lotte Fitin lantai 9, Euljiro, Jung-gu, Dongdaemun History and Culture Park Station, exit 11 dan 12.
Bagi kamu fans berat Idol  di bawah naungan YG Entertainment, Klive Store ini siap bikin kamu puas. Bagaimana enggak ketagihan jika di tempat ini kamu bakal dapat pengalaman luar biasa mulai dari menyaksikan idola lewat pertunjukan Klive Hologram hingga berfoto narsis di sini karena tempat ini punya banyak spot yang menarik. Kamu bisa lihat langsung dan berfoto dengan mobil kaca yang dipakai leader Big Bang, G-Dragon, saat solo turnya bertajuk One of Kind di berbagai negara loh.
Tapi, kalau kamu penggemar fanatik SM Entertainment kamu mesti beli pernak-pernik artis SM di SM Town Pop Up Store yang terletak di Lotte Young Plaza. Letaknya di kawasan perbelanjaan di  Myeongdong.
 Jika ingin membeli berbagai aksesoris K-Pop dengan harga miring, maka Myeongdong Underground Shopping Center jadi rujukan yang paling oke. Di sini kamu bisa memborong segala jenis pernak-pernik K-Pop mulai dari stiker, gantungan kunci, name tag, gelang, kalung, light stick hingga CD album mereka. Soal harga jelas jauh lebih bersahabat mulai dari 1.000 won.      

YG Building/rid
7. Berkunjung ke Agensi K-Pop
Kini tempat agensi para idola K-Pop bernaung juga telah berubah menjadi tujuan wisata bagi para turis. Banyak para wisatawan yang berkunjung dengan harapan bisa bertemu dengan para idola mereka. Kalau kamu fans setia artis SM Town pantang untuk melewatkan agenda berkunjung ke kantor salah satu agensi K-Pop terbesar di Korea ini. Kantor SM Entertainment milik pengusaha kaya Lee Soo Man ini bisa kamu datengin di Gangnam-gu, Apgujeong-2dong, 521, Seoul.
Kalau beruntung, siapa tahu kamu bisa ketemu member EXO, seperti Baekhyun, D.O, Suho, dkk. Atau bisa jumpa member SNSD, Yoona, Tiffany, Seohyun, atau Taeyeon. Mungkin juga enggak sengaja lihat Super Junior atau TVXQ.
Mendatangi YG Building yang menjadi kantor YG Entertainment juga jadi pilihan menarik loh. Bentuk bangunan YG Building yang unik di Mapo-gu, Hapjeong-dong, 397-5, Seoul, bikin kita langsung terkesan. Apalagi kalau kamu ngaku fans berat, Psy, Big Bang, Winner, Ikon, dan 2NE1. Sebagai VIP atau Black Jack rasanya kurang kalau kamu enggak melihat langsung agensi idol tempat mereka berlatih keras.
Jangan lupakan kantor JYP Entertaiment yang menjadi rumah bagi 2PM, 2AM, dan Wonder Girls. Kantor ini memang berbeda dengan kantor agensi lainnya karena banyak poster-poster sang artis yang menempel di kaca gedung seperti bioskop. Poster-poster di kaca gedung inilah yang sering dijadikan objek berfoto oleh para wisatawan. 

Minggu, 28 Desember 2014

Catatan MotoGP 2014: Tahun Milik Baby Alien

Marc Marquez/MotoGP.com
MotoGP musim 2014 masih menjadi milik Honda lewat Marc Marquez yang resmi menjadi juara dunia untuk kali kedua beruntun. Ya, Spaniard itu masih terlampau tangguh untuk ditaklukkan. Total 13 kemenangan dicetaknya dalam semusim termasuk 10 kali podium beruntun yang menjadi rekor anyar dalam sejarah MotoGP.
Rapor fantastis ini bikin Marquez, yang kerap dijuluki Baby Alien, menjadi juara dunia termuda sepanjang sejarah dalam usianya yang baru 21 tahun. Kebahagiaan rider jebolan Moto2 ini semakin lengkap saat sang adik, Alex Marquez, juga didapuk sebagai kampiun Moto3. Keduanya pun menjadi kakak adik pertama yang sama-sama juara dunia dalam satu musim dalam ajang balap motor dunia.
Torehan 13 kali podium utama adalah yang pertama dalam sejarah MotoGP. Jagoan Honda tersebut mematahkan rekor pendahulunya, Mick Doohan yang membukukan 12 kemenangan dalam semusim pada 1997 silam. Begitu pula dengan 13 kali pole position yang direbutnya dalam semusim          
Berkaca dari pengalaman di musim debutnya 2013 lalu, di tahun keduanya, pembalap kelahiran Cervera, Spanyol ini lebih berhati-hati. Meskipun demikian, ia masih dianggap terlalu ceroboh lantaran masuk kategori pembalap yang sering tersungkur. Kampiun termuda ini mencium aspal lintasan sebanyak 11 kali. Jumlah ini berhasil ia kurangi mengingat di musim perdananya rekan Dani Pedrosa ini terjatuh 14 kali.
Terlepas dari catatan menakjubkannya sepanjang 2014, rider yang memutuskan pindah tempat tinggal ke Andorra ini bermasalah dengan garis start. Mungkin ia memang membikin cerita indah dengan sukses merebut 13 pole position. Masalahnya, Marquez malah kerap tercecer ketika mengawali balapan dari grid terdepan. Tak pelak ia mesti berjuang ekstra keras untuk merebut kembali posisinya.    

Marquez di Sirkuit Motegi, GP Jepang/MotoGP.com
Di sisi lain, Honda memang boleh berbangga dengan raihan mereka sebagai kampiun. Akan tetapi, seharusnya mereka cukup sadar jika performa musuh abadinya, Yamaha, di paruh kedua musim ini jauh lebih apik. Puncaknya, tim pabrikan Jepang ini apes di Phillip Island, Minggu, 19 Oktober lalu. Honda untuk kali pertama lewat dua jagoannya gagal merampungkan balapan lantaran terjatuh. Hasil ini adalah yang terburuk sejak GP Portugal musim 2010 lalu.
Jagoan Yamaha, Valentino Rossi, juga menuai berkah. Bahkan pembalap berjuluk The Doctor itu lebih mentereng dari rekannya, Jorge Lorenzo. Usianya boleh 35 tahun, tetapi kemampuan tempurnya di lintasan balap tak kalah dari para juniornya. Dua podium utama sukses direngkuhnya, yakni GP San Marino dan GP Australia.
Rossi malah terpacu untuk lebih sukses lagi pasca berpisah dengan mekanik andalannya, Jeremy Burgess, di akhir 2013. Kerja sama yang sudah terbangun sejak musim 2000-an itu berakhir lantaran Burgess kesulitan untuk memenuhi ambisi juara dunia tujuh kali tersebut di samping mekanik Australia itu juga sudah kelelahan. Peruntungan Rossi pun membaik saat bekerja dengan Silvano Galbusera. Hasilnya, posisi sebagai runner up berada di tangannya. Catatan ini adalah yang terbaik sejak ia jadi juara dunia kali terakhir, 2009 lalu.
Sebaliknya, justru rekannya, Lorenzo yang tertimpa sial. Juara dunia dua kali itu mesti menelan pil terpahit sejak ia debut di MotoGP 2008 silam. Sebab, untuk kali pertama rider Spanyol tersebut baru memetik kemenangan setelah melakoni 13 seri. Biasanya, Lorenzo selalu naik podium utama dalam dua seri pertama.  

Valentino Rossi/MotoGP.com
Ya, sejak awal musim Lorenzo memang mengeluhkan motor Yamaha YZR M1 2014. Adanya sejumlah regulasi baru terutama soal pembatasan bahan bakar. Tim pabrikan Jepang ini mesti memaksimalkan peran seamless gearbox saat downshift atau turun gigi persneling.
Di musim 2015 alias masa transisi sebelum penyeragaman penggunaan hardware dan software Electronic Control Unit (ECU) diyakini bakal lebih menarik. Sebab, tim pabrikan mesti menghentikan pengembangan software mereka hingga Juni 2015. Selain itu, perubahan hanya diperbolehkan untuk memperbaiki sisi keselamatannya. Selama masa jelang pemberlakuan ECU standar 2016,  tim pabrikan boleh memberi masukan dalam pengembangannya bersama Magneti Marelli yang telah ditunjuk Dorna.

Setelah musim 2015 berakhir, semua tim yang menjadi peserta MotoGP 2016 harus menggunakan ECU standar. Regulasi tersebut akan dipertahankan sampai 2021 kemudian dievaluasi jika diperlukan perbaikan.

Alex Marquez, Valentino Rossi, dan Marc Marquez/MotoGP.com

Senin, 10 November 2014

The Story of Goryeo (3): Surga Kenangan Dinasti Joseon

Salah satu bagian di Secret Garden/rid.
Mengunjungi Korea Selatan tak bisa dilepaskan dari sejarahnya. Seperti halnya Jepang, Korsel yang kini sudah menjadi sebuah negara republik ini berawal dari Dinasti Joseon. Maka dari itu, akan sangat sayang sekali jika Anda bertandang ke Negeri Ginseng ini tak mengunjungi istana-istana peninggalan masa lalu yang masih terjaga dengan sangat baik hingga saat ini.
Setidaknya ada lima istana besar yang terletak di Seoul, yakni Gyeongbokgung, Changdeokgung, Changgyeounggung, Gyeonghuigung, dan Deoksugung. Dari empat istana ini, Gyeongbokgung lah yang terbesar dan menjadi main palace. Meskipun istana-istana ini sempat dibakar di masa invasi Jepang ke Korea, pemerintah kemudian merestorasinya dan mempertahankannya sesuai dengan aslinya.
Sayangnya, saya hanya sempat mengunjungi tiga istana (Gyeongbokgung, Changdeokgung, dan Changgyeounggung) ketika berada di Seoul, Oktober lalu. Namun, itu sudah lebih dari cukup untuk belajar sejarah masa lalu negara empat musim ini.
Dari ketiga istana itu saya benar-benar jatuh hati pada Secret Garden, sebuah tempat yang menjadi bagian dari istana Changdeokgung yang dibangun pada tahun 1405. Tak seperti bagian dari istana lain yang boleh dimasuki para pengunjung tanpa pemandu wisata atau guide tour kapan saja, hanya pada jam-jam tertentu Secret Garden atau Huwon boleh dikunjungi.

Bagian dari istana utama, Gyeongbokgung/rid.
Saya dan kawan seperjalanan saya pun bertanya-tanya mengapa dinamakan Secret Garden atau Rear Garden. Maka kami pun membayangkan taman yang besar dan dilengkapi kolam serta paviliun khas istana Korea. Dugaan kami tak sepenuhnya salah, memang ada taman, kolam dan paviliun, tetapi aslinya tempat ini sungguh indah.
Kami dan belasan turis asing lainnya dipandu oleh pemandu berbahasa Inggris memasuki kawasan Secret Garden. Nuansa sejuk berlatar hijaunya pohon menyambut kami begitu melewati gerbang dengan Huwon. Konon hanya keluarga kerajaan yang diperbolehkan datang ke sini. Sebab tempat yang juga disebut Geumwon atau Biwon ini untuk tempat relaksasi keluarga raja.
“Istana ini adalah favorit raja. Sebab memang diperuntukkan untuk tempat istirahat. Maka dari itu, sebagian besar diisi taman, yang paling menyenangkan adalah Secret Garden ini,” ujar pemandu kami yang bahkan tampil lengkap berpakaian tradisional Korea, Hanbok.
Dan benar saja Secret Garden langsung bikin saya jatuh cinta. Luas sebenarnya taman tersembunyi ini mencapai 32 hektar. Di dalamnya tumbuh tanaman yang jumlahnya lebih dari 26.000 buah yang berasal lebih dari ratusan jenis spesies yang berbeda. Bahkan, dari berbagai jenis pohon itu ada yang berumur lebih dari 300 tahun.
Sejumlah bangunan yang ada di Huwon ini juga sangat berbeda dari bagian lain di istana Changdeokgung. Semuanya dibangun sesuai dengan selera sang raja yang ternyata lebih sederhana dari bangunan lainnya. Warna paviliunnya pun sangat alami, coklat dan putih, sesuai warna alam.
Berada di sini saya seperti tak mau pulang, sangat nyaman, tenang, dan sejuk. Kami tak menyangka ada tempat seperti ini di tengah hingar-bingar kota supersibuk Seoul ini. Saya seperti berada di tengah hutan terpencil, hahaha.

Bagian dari istana utama, Gyeongbokgung/rid.
Berkunjung ke istana Gyeongbokgung adalah yang paling melelahkan. Bagaimana tidak capek mengelilinginya jika istana yang dibangun pada tahun 1395 dan menjadi lambang kebesaran Dinasti Joseon ini memiliki luas mencapai 40 hektar. Bahkan awalnya istana ini punya 7.700 kamar dengan total 500 buah bangunan di dalamnya.
Belajar sejarah dari tempat sekeren ini memang tak akan pernah bosan. Apalagi ternyata main palace ini berdekatan dengan Blue House atau Cheong Wa Dae, istana kepresidenan Korsel. Sebuah kesempatan yang langka bisa melihat bangunan penting ini yang dulu hanya saya tahu dari drama Korea City Hunter yang dibintangi superstar Korea, Lee Minho atau serial Three Days yang dibintangi Park Yoo Chun, personel boy band JYJ.
Akan tetapi, saya sempat khawatir tak bisa melihat Blue House lantaran kami mesti melewati gerbang yang dijaga banyak polisi. Para pengunjung dengan penampilan “agak” mencurigakan pun jadi sasaran petugas keamanan ini. Saya pun tak luput dari perhatian mereka karena penampilan saya yang memang berbeda, berjilbab. Petugas baru memperbolehkan saya lewat setelah menanyakan dari negara mana saya berasal.
“Kenapa ditanya macam-macam seh. Kita kan enggak mau ngapa-ngapain,” kata teman saya.
Istana Kepresidenan Blue House atau Chong Wa Dae/rid.
Saya pun sudah mempersiapkan diri untuk hal-hal semacam ini. Selain warna kulit kami yang jelas berbeda dengan orang Asia Timur, penutup kepala yang saya kenakan memang selalu menjadi perhatian. Entah itu di mall, subway, hingga di jalan. Namun, saya kira itu tak jadi soal karena kami datang dengan maksud baik dan tak berbuat macam-macam.
Jika bosan dengan wisata jenis ini, Anda bisa memilih yang lebih modern seperti mengunjungi Namsan Tower atau Seoul Tower. Di tempat ini Anda bisa menyaksikan view Kota Seoul dari ketinggian dengan naik cable car. Seoul yang sibuk di siang hingga sore hari atau Seoul yang cantik penuh lampu warna-warni di malam hari.
Jangan lupa pula sempatkan mampir di Bukchon Hanok Village. Tempat ini adalah kampung tradisional Korea. Awalnya ini merupakan pemukiman dan tempat tinggal para pejabat dan anggota keluarga kerajaan Dinasti Joseon. Kini sudah menjadi aset pribadi dan sering kali dijadikan tempat pengambilan gambar untuk film, drama, hingga foto prewedding.
Atau jika ingin menghabiskan seluruh isi dompet, Seoul adalah surganya belanja. Ada banyak pilihan tempat belanja barang branded di Doota, COEX mall atau Lotte Mart, hingga di tempat berharga miring seperti di Dongdaemun dan Myeongdong. Jika ingin souvenir khas Korea Anda bisa pergi ke Insadong, atau ingin bergaya anak muda bisa mampir ke Hongdae.  

Gembok cinta di Namsan Tower/rid.

Minggu, 09 November 2014

The Story of Goryeo (2): K-Pop Love and Hate

Banner Big Bang di K-Live Store, Seoul/rid.
Tak dapat dimungkiri kepergian saya ke Seoul lantaran penasaran dengan K-Pop, terutama karena kawan perjalanan saya, Ata, yang tergila-gila dengan boy band  ternama Negeri Ginseng, Big Bang. Maka agenda berkunjung ke agensi artis K-Pop pun pantang ia lewatkan ketika kami datang ke Seoul, Oktober lalu. Bagi para K-Pop lovers, tak boleh melewatkan belanja aksesoris sang bintang dengan harga miring yang bisa Anda temukan di kawasan Myeongdong Underground Shopping Center.
Sebenarnya dalam daftar kami ada banyak agensi K-Pop Idol yang ingin dikunjungi. Mulai dari YG, JYP (2PM, 2AM), FNC Entertainment (CNBLUE dan FT Island), hingga Cube (Beast). Tapi sok padatnya jadwal membikin kami mesti memilih salah satu. Pergi ke YG Entertainment semacam jadi kunjungan wajib terutama bagi kawan saya.  
Akhirnya sampailah saya di rumah para artis K-Pop di bawah naungan YG Entertainment di kawasan  Mapo-gu, Hapjeong-dong. YG Building ini memang memiliki bangunan yang unik dan mencolok. Kawan saya yang merupakan fans berat leader Big Bang, G-Dragon, ini  tak henti-hentinya tertawa dan tersenyum karena mimpinya untuk menyambangi agensi boy band kesayangannya terwujud sudah.

YG Building di Mapo-gu, Hapjeong-dong, Seoul/rid.
Kunjungan yang terbilang singkat itu sedikit dramatis. Selain berulang kali salah jalan, hujan deras menyambut kami dan membuat kami tertahan di sana hingga sore hari. Untungnya, di depan agensi bintang Korea yang menggemparkan dunia, Psy, ini ada minimarket sehingga kami bisa mengisi perut yang kelaparan sekaligus tempat berteduh.
Ternyata kami tak sendiri nongkrong di depan YG. Ada fans dari berbagai negara yang juga berharap bisa bertemu penyanyi idolanya. Beberapa dari mereka berasal dari Tiongkok dan Hong Kong. Fans asal Tiongkok itu malah tampil totalitas lewat pakaian yang dikenakannya. Ia meniru gaya member 2NE1, Sandara Park, yang mengenakan topi hitam besar, yang sempat dipakai dalam video klip Missing You. Bahkan, saya cukup kaget karena salah satu kenalan kami asal Hong Kong bisa berbahasa Melayu dan menyapa kami.
Perkenalan yang unik karena efek K-Pop. Malahan di saat yang bersamaan ada cowok Korea yang rela menemani pacarnya pergi ke YG. Sama seperti fans lainnya, ia tentunya berharap berjumpa dengan sang idola. Entah penampakan Big Bang, 2NE1, atau boy band anyar YG, Winners, hingga calon bintang mereka macam BI atau Bobby.
“Saya benci K-Pop, apa itu. Mereka hanya bisa jual tampang dan sok tahu tentang musik. Mereka itu cuma pintar jualan,” ujar Jin Woo, teman Korea yang sempat menemani saya berkeliling beberapa hari sebelum saya pergi ke YG.
Saya juga kaget karena K-Pop bagi sejumlah orang Korea sendiri adalah hal yang tak menarik. Maka ketika Jin Woo mengeluarkan unek-unek-nya soal K-Pop, kawan saya agak marah. Mereka pun terlibat perang kata-kata antara lover dan hater K-Pop. Saya dan pacar Jin Woo, Yesul, hanya bisa tertawa melihat pertengkaran yang akhirnya berakhir bahagia di warung makan Tteokbokki (kue beras).

Rapper Big Bang, TOP, saat fans meeting/Ata.
Kegilaan soal K-Pop tak berhenti di sini. Demi menuruti keinginan kawan saya untuk bertemu salah satu member Big Bang, TOP, di sebuah acara fans meeting pun rela kami lakoni. Kawan saya sempat shock karena acara yang dimaksud ternyata tidak ada di Hyundai Departement Store di Apgujeong-dong yang kami kunjungi. Apalagi perjalanan dari guest house kami di daerah Sungkyunkwan University cukup jauh dari Apgujeong.
Suasana menyebalkan itu berubah drastis ketika ternyata fans meeting itu digelar di mall yang berada di samping Hyundai Departement Store. Teriakan para VIP (sebutan fans Big Bang) pun memenuhi tempat ini demi melihat sang idola, TOP, berdiri di depan mereka.
Jika saya memilih hanya sekadar melihat dari tempat yang agak jauh, maka kawan saya rela naik turun eskalator demi mendapatkan foto rapper Big Bang ini. Inilah untuk kali pertama saya melihat langsung sosok Idol K-Pop. Berbeda dengan teman saya yang sudah berulang kali nonton konser mereka. Konser YG Family di Singapura pun rela ia sambangi, busyettt.

Fans meeting pemeran film Fashion King di Doota Mall, Seoul/rid.
Selama di Seoul kami juga cukup beruntung bisa melihat langsung aktor Joo Woon yang menjadi pemeran utama dalam drama Bridal Mask dan Good Doctor dan Ahn Jae-hyun yang dikenal lewat perannya dalam drama You are All Surrounded bersama Lee Seung Gi. Ketika itu keduanya sedang mempromosikan film terbaru mereka, Fashion King, di Doota Mall di Dongdaemun.
“Saya tak percaya kalau K-Pop itu terkenal karena saya tak begitu menyukainya. Baru ketika saya pergi ke sejumlah tempat di Asia Tenggara saya sadar fenomena ini. Mereka selalu menanyai saya soal K-Pop begitu tahu saya dari Korea,” kata Karen, teman Korea saya ketika saya berkunjung ke rumahnya di Busan.
Begitu pula ketika saya dan teman berkunjung ke rumah Karen di Busan. Beruntungnya ketika itu baru berlangsung Busan International Film Festival (BIFF) yang mengambil tempat di Haeundae beach. Pergelaran film akbar yang diselenggarakan setiap tahun ini semakin menarik lantaran lokasinya berada di pantai.
Di tempat ini kami beruntung bisa melihat sosok salah satu aktor besar Korea, Jung Woo Sung, yang bermain dalam satu drama action-nya yang nge-hits, Athena. Ketika itu aktor 41 tersebut tengah mempromosikan film terbarunya, Scarlet Innocence. 
K-Pop hingga Korea Wave memang tengah menjadi tren tersendiri. Ini adalah buah dari kreasi industri hiburan berlatar kultur Pop yang mungkin suatu saat bakal hilang ditelan waktu, *ups (siapsiap dijitak), hahaha. 

Pemeran film Scarlet Innocence di Busan International Film Festival/rid.

The Story of Goryeo (1): Annyeong Seoul

King Sejong Statue di Gwanghamun Square, Seoul, Korea Selatan/rid.
Drama tak seindah kenyataan. Mungkin kalimat itulah yang sekiranya pantas menggambarkan sedikit cerita dari hasil melakukan kunjungan singkat ke sebuah negeri di Asia Timur, Korea Selatan. Padahal dibanding pergi ke negara yang terkenal dengan K-Pop ini saya sebenarnya lebih penasaran untuk pergi ke negara satu daratan mereka, Korea Utara. Tapi apa daya, mekanisme yang mesti saya lewati untuk mendapatkan izin ke negara yang cukup tertutup itu terbilang rumit.
Maka perjalanan nekat untuk menyambangi tanah kelahiran King Sejong itu terlaksana juga di awal Oktober lalu. Meski pada mulanya saya sempat dibuat deg-degan lantaran visa baru keluar sepekan jelang keberangkatan. Akhirnya sampai juga di Korsel, tepatnya di Seoul.
Namun, ini justru membuat saya mengerti bagaimana berurusan dengan surat izin ke luar negeri di luar Asia Tenggara hingga mengatur tempat tinggal selama berada di Korea. Semua saya lakukan untuk kali pertama. Saya kira ini pengalaman yang sangat berharga yang tak bisa Anda dapatkan jika sekadar mengikuti trip sebuah travel agent.
Sebelum menjejakkan kaki saya ke surganya K-Pop ini mungkin ekspektasi saya terlalu tinggi. Maklum, saya mengenalnya Negeri Ginseng ini lewat drama, ikon musik K-Pop yang melejitkan nama-nama besar seperti Big Bang, Super Junior, 2NE1, SNSD, dsb hingga para atletnya macam Lee Yong Dae (pebulu tangkis) dan Park Ji Sung (pesepak bola).
Maka yang tertanam dalam ingatan saya, Korea Selatan adalah sebuah tempat yang sangat menyenangkan seperti dalam serialnya. Tempatnya yang indah sampai betapa ramah dan santunnya negara yang kini dipimpin oleh seorang presiden perempuan untuk kali pertama, Park Geun Hye.

View Han River dari Namsan Tower, Seoul/rid.
Memori saya ini tak semuanya salah. Sebab ketika sesekali tersesat karena bingungnya menggunakan subway, orang Korea selalu mau dimintai tolong. Bahkan, tak jarang dari mereka mengantarkan saya ke jalur yang tepat, yang seharusnya saya pilih.
Sebenarnya tak sepenuhnya hal indah itu hilang dari ibu kota Korsel yang mengusung slogan Hi Seoul ini. Hanya beberapa hal membuat saya sedikit mengalami culture shock. Saya kira sebagai orang Timur mereka masih sangat berpegang teguh dengan tata krama adat ketimuran, terutama soal hubungan khusus lelaki dan perempuan.
Di kota yang menjadi salah satu kota terbesar di dunia ini tak berlaku kata tabu. Tabu bagi para pasangan untuk saling mengumbar kemesraan di depan umum. Mungkin jika sekadar saling berpegangan tangan itu pun juga banyak dilakukan di Indonesia. Tapi jika adegan kamar seperti berpelukan, skin ships yang kelewat batas hingga berciuman itu bisa dilakukan di sembarang tempat, membuat saya sangat shock. Mereka tak malu melakukannya di jalan, subway, mall, stasiun, di mana-mana.
Padahal dalam drama mereka memperlihatkan betapa tak mudahnya untuk mengenal satu sama lain hingga bagaimana sopannya jalinan cinta kasih mereka. Meski memang setiap drama selalu ada adegan ciuman dan berpelukan.

Sepasang kekasih Korea tengah menghabiskan waktu di Namsan Tower, Seoul/rid.
Seorang kawan saya yang baru saja menamatkan studi Sastra Korea di sebuah universitas pun berani mengatakan apa yang tengah menjadi trend di Korsel adalah budaya barat yang kebablasan. Cerita-cerita jelek pun mengiringi fenomena ini. Mulai dari jika pacaran itu pasti sudah melakukan hubungan layaknya suami istri, sampai berapa lamanya jalinan cinta ini berjalan sesuai dengan bagaimana lihainya mereka di atas ranjang.
“Ya, emang mereka begitu mbak. Orientasinya ya bisa sekolah bagus, punya karier tinggi dan tentunya pasangan. Jangan kaget kalau mereka tebar kemesraan di jalan, mbak,” tutur Alvi, kawan saya tamatan Sastra Korea ini.
Saya seperti ingin tidur saja ketika seorang teman Korea dan pacarnya menemani saya di hari pertama saya di Seoul. Tingkah mereka membikin saya ingin segera pulang ke guest house dan tidur. Kadang hal semacam ini saya jadikan bahan bercanda dengan kawan perjalanan saya. Lantaran kami hanya pergi berdua dan sama-sama perempuan. Pergi ke tempat seeksotis ini tanpa teman lelaki atau ditemani pacar, hahaha.
Selain euforia K-Pop, Korsel juga dikenal sebagai surganya dunia kosmetika dan fashion. Hampir di setiap sudut Kota Seoul toko kosmetik menjamur seperti kacang goreng. Jadi jangan heran jika sepanjang jalan di sini hanya akan bertemu laki-laki dan perempuan cantik nan stylish. Berbagai merek kosmetik pun laku keras. Tak heran jika baik perempuan atau lelaki sama hobinya, dandan.
Mereka juga punya selera tinggi soal gaya berpakaian. Saya seperti ada di catwalk lantaran melihat mereka begitu mahir memadupadankan baju dan aksesoris lainya macam topi, syal, gelang hingga sepatu. Persis seperti yang ada di drama, Jjang !
Sebaliknya beberapa di antara mereka heran melihat pakaian saya. Tatapan penasaran mengiringi keberadaan saya di beberapa spot, seperti di subway, jalan dan tempat lainnya. Saya mafhum karena saya mengenakan jilbab. Mungkin mereka heran mengapa saya memakai penutup kepala dan mengenaikan pakaian serba panjang.

Saya dan teman-teman asli Korea di Buckhon Hanok Village.
Bahkan, serombongan mahasiswa mengajak saya berkenalan ketika saya mengunjungi Bukchon Hanok Village di kawasan Gyedong-gil, Jongno-gu. Selain penasaran dengan pakaian, rok, dan jilbab yang saya kenakan, mereka ternyata pernah belajar Bahasa Indonesia. Mereka pun asyik berbahasa dan sedikit kaget karena saya membalas obrolan mereka dengan Bahasa Korea.
Satu hal yang membikin saya ingin kembali ke sini suatu hari nanti, meski terkesan individualis, orang Korea itu ramah. Saya jadi ingat ketika pergi ke Haneul Park di kompleks World Cup Stadium di Seongsan-dong, Mapo-gu, ada ibu-ibu yang menawari kami makan kacang kenari. Begitu pula ketika berjumpa ahjussi (sebutan untuk paman) di tempat ini. Meski ia tak bisa berbahasa Inggris, ia rela mencarikan jalan untuk kami yang ingin melihat Hangang River. Bahkan, ia memberikan bekal makanan dan minuman yang dibawanya untuk kami.

Atau saya juga ingin kembali ke Busan untuk mengunjungi kawan sekaligus saudara kami yang baru. Ia berbaik hati menawarkan tempat menginap di apartemennya yang punya pemandangan luar biasa dari balik jendelanya. 

Taman di Gyeongbokgung Palace, Seoul/rid.

Rabu, 21 Mei 2014

Balada Juventus (1): Pippo dan Nedved

Perayaan hat-trick scudetto Juventus di Kota Turin. Italia/Juventus.com

Saya tidak tahu bagaimana awalnya saya jatuh cinta dengan bola. Sebab, tak ada darah penggila bola apalagi pemain bola dalam keluarga besar saya. Bapak yang seorang guru tak suka olahraga ini dan lebih senang mendengarkan langgam Jawa dan teman-temannya, sementara ibu juga lebih suka membaca buku berbahasa Jawa dan sejenisnya.
Seingat saya olahraga yang identik dengan kaum Adam ini saya kenal sejak duduk di bangku SD. Namun, bola resmi menjadi bagian dari hidup saya setelah naik ke level SMP. Adalah teman-teman lelaki saya yang setiap awal pekan selalu asik mengobrol tentang olahraga yang membutuhkan 11 orang demi memperebutkan satu bola di lapangan hijau berumput ini.
Lantaran ingin ikutan nimbrung, maka sedikit demi sedikit mulai melihat siaran bola berdurasi 2 x 45 menit di salah satu televisi swasta yang saat itu moncer dengan menyiarkan berbagai pertandingan Seri A Italia. Saat itu tahun 1990-an Liga Premier Inggris belum semoncer seperti sekarang. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab mengapa saya jatuh hati pada tim Italia.
Ketika kawan-kawan saya sibuk mengunggulkan AC Milan, Lazio dan Roma, saya justru kesengsem dengan Juventus. Tak dapat dipungkiri rasa suka ini bermula dari sosok ganteng sang striker, Filippo Inzaghi, yang saat itu masih berseragam La Vecchia Signora. Bahkan, demi mendapatkan foto serta stiker pemain bernomor punggung 9 itu saya mesti menabung dengan keras untuk membelinya. Sayangnya, foto serta stiker itu berakhir di tempat sampah karena ibu saya menyobeknya setelah mendapati gambar-gambar itu menempel di dinding kamar saya, pasrah.
Kegilaan itu ternyata melebar, tak hanya mengenal sosok Pippo, tapi menjalar hingga ke tim-tim tetangga. Maka saya mulai berkenalan dengan Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Andriy Shevchencko, Oliver Bierhoff, Gabriel Batistuta Christian Vieri, Hernan Crespo, Francesco Totti, Vicenzo Montella, dkk.