Jumat, 15 Februari 2013

Traveling itu Nyandu



Saya tidak pernah berpikir untuk bisa menapakkan kaki ke daratan lain selain tempat tinggal saya. Pulau-pulau di luar Jawa bahkan luar negeri hanya ada dalam angan-angan yang entah kapan bisa saya wujudkan. Saat duduk di bangku kuliah acara piknik tak pernah bisa jauh-jauh.  Perjalanan dengan semangat berwisata itu hanya pentok ke pantai di ujung utara Jawa ataupun pantai-pantai selatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Namun, entah dari mana ide-ide gila itu bermula. Setiap akhir pekan saat libur perkuliahan saya selalu ingin berada di tempat-tempat baru yang belum pernah saya jejaki. Saya mulai punya ide gila untuk menyambangi satu per satu deretan pantai selatan di Gunung Kidul mulai dari Baron, Krakal, Kukup, Drini hingga Indrayanti. Meskipun jika ditarik garis horisontal, pantai satu dengan yang lainnya tak ada perbedaan yang mencolok alias hampir sama.
Salah satu perjalanan yang cukup berkesan bagi saya adalah bertouring ria ke Pantai Srau di Pacitan. Rencana gila bersepeda ramai-ramai itu awalnya seperti gambling. Saya masih ingat perjalananan itu dilakukan pada Februari 2010, saat saya harap-harap cemas menanti kelulusan gelar sarjana saya. Jika saya tidak bisa maju siding bulan itu juga maka rencana menilik Srau gagal total. Nampaknya Jumat, 5 Februari adalah hari bagus sehingga misi saya mempertanggungjawabkan diri selama di bangku kuliah lancar jaya.
Tak perlu mengulur waktu untuk memulai touring ke Srau. Anehnya, bukan langsung meluncur ke Pacitan tetapi belok dulu ke Ponorogo. Ide yang benar-benar aneh. Tapi bagusnya saya punya kesempatan melihat tempat adik-adik saya belajar.
Perjalanan yang cukup jauh ini memang harus dibayar mahal dengan flu berat ditambah sakit perut. Lengkap sudah. Namun, semua itu terbayar dengan eskostisnya landscape Srau yang keren.
Piknik kategori berat sepertinya mulai semakin menggila saat bekerja. Bertemu dengan orang-orang super canggih yang mengenalkan saya pada tempat-tempat ajib di bumi khatulistiwa ini. Dari pantai, gunung, hingga gedung-gedung pencakar langit. Luar biasa…
Keinginan itu berbanding lurus dengan hasrat saya yang gila baca. Alhasil, buku-buku traveling selalu masuk radar saya setiap kali menyinggahi toko buku. Namun, bukan model travel guide yang saya lirik melainkan buku-buku padat berisi seperti Meraba Indonesia, Ahmad Yunus, Perjalanan ke Atap Dunia-nya Daniel Mahendra, Menyusuri Lorong-lorong Dunia milik Sigit Susanto, Life Traveler-nya Windy Ariestanty hingga The Geography of Bliss-nya Eric Weiner. Semua buku-buku itu bikin otak saya berputar 360 derajat, hahaha.
Tak bisa dipungkiri semua tokoh-tokoh itu menginsipirasi otak saya untuk selangkah lebih maju menjejakkan kaki ke setiap jengkal tanah bumi pertiwi ini. Dan tentu saja mendekat ke impian terbesar saya, tidur di Kota Turin dan mencium Juventus Stadium, benar-benar gila.
Piknik yang saya lakukan memang belum ada apa-apanya dibandingkan mereka. Namun, semua tempat keren yang mereka suguhkan saya masukkan ke daftar dan tercatat baik-baik di memori otak saya. Niat sudah tinggal aksi nekatnya saja.
Namun, semua itu kadang terbantahkan dengan kehendak orangtua. Mereka memang tak pernah melarang saya untuk bepergian kemanapun. Maklum saya bukan tipikal anak yang nyaman di rumah dan bisa bertahan berhari-hari menjadi anak rumahan. Jika ada sedikit waktu longgar tentu saja dolan menjadi solusi terbaik mengusir rasa jenuh, bosan dan sebagainya.
Hingga suatu saat ibu pernah berkelakar mengapa uang saya tidak dipergunakan untuk umroh saja dibandingkan untuk piknik-piknik itu. Bukannya kapok malah lontaran ibu itu justru menjadi ide gila baru saya berikutnya.
Bagaimana kalau umroh backpacker?! Great idea! Yes, I will do that. Saya catat tebal-tebal keinginan ibu itu di dalam salah satu sudut mimpi saya. Saya juga tak mau kalah dengan bapak ibu yang sudah menunaikan rukun Islam kelima dengan pergi ke Arab Saudi.
Kini di sela jam kerja yang tanpa ampun dengan jadwal kuliah serta tugas-tugas yang menguras keringat, mimpi-mimpi itu masih panjang. Saya ingin menuntaskan semua mimpi itu. Melintasi garis garis khatulistiwa, terbang ke puncak tertinggi atau menyelami kekayaan bahari Indonesia dan tentu saja mendapatkan gelar Master of Art. Bismillah…


0 Komentar:

Posting Komentar