Senin, 06 Mei 2013

Surga Dunia Rp1.000

Telaga Madirda, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar
Kali pertama mendengar nama Telaga Madirda adalah ketika seorang teman saya menulis sebuah soft news sebagai bahan liputannya sekitar dua tahun lalu. Saya langsung tertarik dengan apa yang dia sampaikan tentang tempat eksotis yang ia kisahkan dalam tulisannya. Apalagi ternyata telaga itu belum banyak diketahui khalayak ramai.

Tak butuh waktu lama untuk menuntaskan rasa penasaran saya demi melihat telaga yang tampak aduhai meski baru membaca dan melihat fotonya lewat surat kabar. Madirda rekaman teman saya adalah sebuah telaga yang sangat indah dengan background bukit di sekitarnya. Ia seakan tersembunyi di balik lembah-lembah di lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Airnya masih sangat jernih sehingga kita pun bisa melongok wajah kita dengan jelas melalui bulir bulir bening itu. Bahkan, ada beberapa jenis ikan yang berada di telaga ini yang melengkapi indahnya telaga di balik ketangguhan Lawu.

Saya sukses menjejakkan kaki ke surga dunia bernama Madirda ini hampir satu setengah tahun lalu. Menemukan surga tersembunyi ini termasuk cukup mudah. Hanya saja kendaraan yang akan dibawa ke objek ini harus benar-benar sehat karena tanjakan tajam menjadi tantangan tersendiri terlebih jika kita tak pernah menjamah medan pegunungan, hehehe… Pastikan kita mengontrol gigi satu dengan sangat baik. 


Madirda merupakan salah satu kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan untuk Bumi Intanpari. Telaga yang kerapkali dijadikan tempat untuk Upacara Melasti bagi Umat Hindu ini terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Dari arah Solo tinggal mengikuti rute jalan besar hingga sampai ke Kecamatan Karangpandan. Dari sana jangan sampai salah ambil jalan yang menuju Tawangmangu karena jelas berbeda arah. Ambil jalan menuju Ngargoyoso atau pilih jalan ke arah Candi Sukuh, Candi Cetho dan Kebun Teh.

Ikuti arah jalan utama hingga sampai di pintu wisata Ngargoyoso. Cukup Rp1.000 untuk membayar retribusi untuk sepeda motor. Petugas tidak akan memberhentikan kendaraan yang sembarangan melintas. Terlebih kendaraan berplat nomor luar kota, tentu saja sinyal kuat bagi sang penjaga untuk segera menghentikannya dan menarik retribusi sesuai jenis kendaraan.

Akan tetapi, jika ingin gratis mungkin cara saya bisa dicoba. Biasanya pengendara yang bukan penduduk setempat pasti mengenakan perlengkapan berkendara komplet, helm, jaket, slayer, kaos tangan dan sebagainya. Jika ingin lolos melintas cuma-cuma tanggalkan semua atribut itu. Jalanlah santai dan pelan-pelan tanpa berhelm, berjaket dan lain-lain seakan penduduk asli. Alhasil, petugas tidak akan menyetop jalan santai kita. Dan saya sudah melakukannya berkali-kali jika menyambangi lereng Lawu ini, hahahaha.


Dari pintu retribusi ambil jalan ke kanan atau jalan yang sama jika ingin menuju ke lokasi air terjun Jumog. Sampai di sebuah perempatan besar pilih jalan lurus, tetapi jika ingin ke Jumog cukup belok kiri. Maka tanjakan-tanjakan istimewa dimulai dari sini. Sepanjang jalan desa ini mata kita akan disuguhi hijaunya lereng Lawu. Tak akan terdengar deru laju padatnya kendaraan, kepulan asap knalpot atau bunyi klakson yang memekakkan telinga. Sebagai gantinya, hamparan permadani hijau tersaji apik mengundang takjub dan berujar syukur tiada tara.


Dibantu papan nama bertuliskan Madirda mempermudah sampai ke lokasi. Namun, tetap berhati-hati dan alih gigi sepeda dengan sangat baik agar sukses melewati tanjakan. Tidak akan kita jumpai petugas yang akan menyetop untuk meminta bayaran tiket masuk ke Madirda. Calon loket ke objek ini bahkan belum sepenuhnya selesai dikerjakan. Sedikit ektra hati-hati untuk benar-benar menyentuh aroma telaga ini karena jalan kecil yang dilalui masih berbatu dan dibuat di samping rumah penduduk. 


Lalu tak sampai 100 meter surga dunia itu terhampar luar biasa menakjubkan di depan mata. Saya jatuh cinta begitu saja dengan Madirda. Hanya damai yang ia lantunkan lewat gemericik air yang hadir seperti air terjun mini di sela bongkahan batu besar di ujung telaga. Atau sekadar ucapan selamat datang yang ia sampaikan dari bukit-bukit hijau yang seakan bertindak sebagai penjaga kedamaian telaga.

Kali kedua saya menemuinya dengan mengajak serta seorang sahabat akhir pekan lalu. Tak banyak yang berubah dari si eksotis ini. Mungkin cuaca serta musim yang membedakan. Akhir pekan itu ia menyambut dengan rintik hujan dan kabut. Menunggu adalah pilihan yang tepat jika ia sedang melakukan tarian selamat datang. 


Hujan baru reda setelah hari hampir menginjak sore. Matahari tampak malu-malu mengintip dari balik awan putih yang menyemburat di langit biru Lawu. Pancaran cahaya sang Surya membuat Madirda benar-benar bersolek sore itu. Madirda kembali membuat saya jatuh hati. Mimpi saya untuk memiliki sebuah rumah di tepi danau berseliweran lagi. Jauh dari hingar bingar dan kacrutnya dunia, hanya ada rasa damai menjadi satu membentuk sebuah harmoni dari alam dan kehidupan yang membuat semakin dekat dengan si Pelukis Madirda.

3 komentar:

  1. Dibalik kedamaian itu banyak konflik yang terjadi. Mulai dari rebutan retribusi antara penduduk dgn pemkab, hingga status tanah yang tidak jelas. Itu telaga buatan penduduk. Karena aslinya hanya kecil saja mata airnya. Madirda mencari tuan.

    BalasHapus
  2. foto nya bagus2 mbasis, hobi dunia fotografi kah?

    Sekilas tempat nya kaya situ pattengang yang di bandung ya hehe

    http://www.thedreamerblog.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. baru sekadar hobi bang, hehehe
      wah iya kah, belum pernah ke sana oey

      Hapus