Minggu, 09 November 2014

The Story of Goryeo (1): Annyeong Seoul

King Sejong Statue di Gwanghamun Square, Seoul, Korea Selatan/rid.
Drama tak seindah kenyataan. Mungkin kalimat itulah yang sekiranya pantas menggambarkan sedikit cerita dari hasil melakukan kunjungan singkat ke sebuah negeri di Asia Timur, Korea Selatan. Padahal dibanding pergi ke negara yang terkenal dengan K-Pop ini saya sebenarnya lebih penasaran untuk pergi ke negara satu daratan mereka, Korea Utara. Tapi apa daya, mekanisme yang mesti saya lewati untuk mendapatkan izin ke negara yang cukup tertutup itu terbilang rumit.
Maka perjalanan nekat untuk menyambangi tanah kelahiran King Sejong itu terlaksana juga di awal Oktober lalu. Meski pada mulanya saya sempat dibuat deg-degan lantaran visa baru keluar sepekan jelang keberangkatan. Akhirnya sampai juga di Korsel, tepatnya di Seoul.
Namun, ini justru membuat saya mengerti bagaimana berurusan dengan surat izin ke luar negeri di luar Asia Tenggara hingga mengatur tempat tinggal selama berada di Korea. Semua saya lakukan untuk kali pertama. Saya kira ini pengalaman yang sangat berharga yang tak bisa Anda dapatkan jika sekadar mengikuti trip sebuah travel agent.
Sebelum menjejakkan kaki saya ke surganya K-Pop ini mungkin ekspektasi saya terlalu tinggi. Maklum, saya mengenalnya Negeri Ginseng ini lewat drama, ikon musik K-Pop yang melejitkan nama-nama besar seperti Big Bang, Super Junior, 2NE1, SNSD, dsb hingga para atletnya macam Lee Yong Dae (pebulu tangkis) dan Park Ji Sung (pesepak bola).
Maka yang tertanam dalam ingatan saya, Korea Selatan adalah sebuah tempat yang sangat menyenangkan seperti dalam serialnya. Tempatnya yang indah sampai betapa ramah dan santunnya negara yang kini dipimpin oleh seorang presiden perempuan untuk kali pertama, Park Geun Hye.

View Han River dari Namsan Tower, Seoul/rid.
Memori saya ini tak semuanya salah. Sebab ketika sesekali tersesat karena bingungnya menggunakan subway, orang Korea selalu mau dimintai tolong. Bahkan, tak jarang dari mereka mengantarkan saya ke jalur yang tepat, yang seharusnya saya pilih.
Sebenarnya tak sepenuhnya hal indah itu hilang dari ibu kota Korsel yang mengusung slogan Hi Seoul ini. Hanya beberapa hal membuat saya sedikit mengalami culture shock. Saya kira sebagai orang Timur mereka masih sangat berpegang teguh dengan tata krama adat ketimuran, terutama soal hubungan khusus lelaki dan perempuan.
Di kota yang menjadi salah satu kota terbesar di dunia ini tak berlaku kata tabu. Tabu bagi para pasangan untuk saling mengumbar kemesraan di depan umum. Mungkin jika sekadar saling berpegangan tangan itu pun juga banyak dilakukan di Indonesia. Tapi jika adegan kamar seperti berpelukan, skin ships yang kelewat batas hingga berciuman itu bisa dilakukan di sembarang tempat, membuat saya sangat shock. Mereka tak malu melakukannya di jalan, subway, mall, stasiun, di mana-mana.
Padahal dalam drama mereka memperlihatkan betapa tak mudahnya untuk mengenal satu sama lain hingga bagaimana sopannya jalinan cinta kasih mereka. Meski memang setiap drama selalu ada adegan ciuman dan berpelukan.

Sepasang kekasih Korea tengah menghabiskan waktu di Namsan Tower, Seoul/rid.
Seorang kawan saya yang baru saja menamatkan studi Sastra Korea di sebuah universitas pun berani mengatakan apa yang tengah menjadi trend di Korsel adalah budaya barat yang kebablasan. Cerita-cerita jelek pun mengiringi fenomena ini. Mulai dari jika pacaran itu pasti sudah melakukan hubungan layaknya suami istri, sampai berapa lamanya jalinan cinta ini berjalan sesuai dengan bagaimana lihainya mereka di atas ranjang.
“Ya, emang mereka begitu mbak. Orientasinya ya bisa sekolah bagus, punya karier tinggi dan tentunya pasangan. Jangan kaget kalau mereka tebar kemesraan di jalan, mbak,” tutur Alvi, kawan saya tamatan Sastra Korea ini.
Saya seperti ingin tidur saja ketika seorang teman Korea dan pacarnya menemani saya di hari pertama saya di Seoul. Tingkah mereka membikin saya ingin segera pulang ke guest house dan tidur. Kadang hal semacam ini saya jadikan bahan bercanda dengan kawan perjalanan saya. Lantaran kami hanya pergi berdua dan sama-sama perempuan. Pergi ke tempat seeksotis ini tanpa teman lelaki atau ditemani pacar, hahaha.
Selain euforia K-Pop, Korsel juga dikenal sebagai surganya dunia kosmetika dan fashion. Hampir di setiap sudut Kota Seoul toko kosmetik menjamur seperti kacang goreng. Jadi jangan heran jika sepanjang jalan di sini hanya akan bertemu laki-laki dan perempuan cantik nan stylish. Berbagai merek kosmetik pun laku keras. Tak heran jika baik perempuan atau lelaki sama hobinya, dandan.
Mereka juga punya selera tinggi soal gaya berpakaian. Saya seperti ada di catwalk lantaran melihat mereka begitu mahir memadupadankan baju dan aksesoris lainya macam topi, syal, gelang hingga sepatu. Persis seperti yang ada di drama, Jjang !
Sebaliknya beberapa di antara mereka heran melihat pakaian saya. Tatapan penasaran mengiringi keberadaan saya di beberapa spot, seperti di subway, jalan dan tempat lainnya. Saya mafhum karena saya mengenakan jilbab. Mungkin mereka heran mengapa saya memakai penutup kepala dan mengenaikan pakaian serba panjang.

Saya dan teman-teman asli Korea di Buckhon Hanok Village.
Bahkan, serombongan mahasiswa mengajak saya berkenalan ketika saya mengunjungi Bukchon Hanok Village di kawasan Gyedong-gil, Jongno-gu. Selain penasaran dengan pakaian, rok, dan jilbab yang saya kenakan, mereka ternyata pernah belajar Bahasa Indonesia. Mereka pun asyik berbahasa dan sedikit kaget karena saya membalas obrolan mereka dengan Bahasa Korea.
Satu hal yang membikin saya ingin kembali ke sini suatu hari nanti, meski terkesan individualis, orang Korea itu ramah. Saya jadi ingat ketika pergi ke Haneul Park di kompleks World Cup Stadium di Seongsan-dong, Mapo-gu, ada ibu-ibu yang menawari kami makan kacang kenari. Begitu pula ketika berjumpa ahjussi (sebutan untuk paman) di tempat ini. Meski ia tak bisa berbahasa Inggris, ia rela mencarikan jalan untuk kami yang ingin melihat Hangang River. Bahkan, ia memberikan bekal makanan dan minuman yang dibawanya untuk kami.

Atau saya juga ingin kembali ke Busan untuk mengunjungi kawan sekaligus saudara kami yang baru. Ia berbaik hati menawarkan tempat menginap di apartemennya yang punya pemandangan luar biasa dari balik jendelanya. 

Taman di Gyeongbokgung Palace, Seoul/rid.

1 komentar:

  1. mungkin budaya semacam "itu" sebentar lagi masuk Indonesia :D


    nice, post! :)

    BalasHapus